Buku Seni Berbicara pada Anak karya Joanna Faber dan Julie King menawarkan strategi komunikasi praktis untuk mengatasi konflik keseharian antara orang tua dan anak tanpa emosi yang meledak. Penulis merangkum teknik mendengarkan secara empati, memberikan pilihan, hingga mencari solusi bersama agar anak merasa lebih dihargai dan kooperatif. Menerapkan Seni Berbicara pada Anak membantu membangun kedekatan emosional yang kuat sekaligus melatih kemandirian si kecil sejak dini melalui pemilihan kata yang tepat.
Menyelami Dunia Anak
Pernahkah kamu merasa tenggorokanmu mau copot karena harus mengulang instruksi yang sama sebanyak sepuluh kali kepada si kecil? Atau mungkin kamu sering terjebak dalam drama “perang urat syaraf” saat menyuruh anak mandi atau merapikan mainan yang berantakan di ruang tamu? Masalah ini bukan hanya milikmu, melainkan menjadi “makanan harian” bagi hampir semua orang tua muda di Indonesia yang sedang berjuang menyeimbangkan karier dan pengasuhan.
Akan tetapi, masalah utamanya sering kali bukan pada nakalnya anak, melainkan pada cara kita mengemas pesan tersebut. Membaca buku ini rasanya seperti mendapatkan napas baru di tengah sesaknya polusi nasihat parenting yang sering kali terlalu teoritis dan sulit kita praktikkkan. Joanna Faber dan Julie King membawa kita masuk ke dunia anak dengan cara yang sangat manusiawi, jauh dari kesan menggurui atau menghakimi.
Menyelami Esensi Seni Berbicara pada Anak
Konsep utama yang mendasari Seni Berbicara pada Anak adalah pengakuan terhadap perasaan anak sebagai sesuatu yang valid. Banyak orang tua secara tidak sadar sering membantah perasaan anaknya. Contohnya, saat anak menangis karena es krimnya jatuh, kita secara otomatis berkata, “Sudah jangan menangis, nanti beli lagi.” Padahal, kalimat tersebut justru membuat anak merasa bahwa rasa sedihnya tidak penting.
Buku ini mengajarkan kita untuk berhenti membantah dan mulai mengakui emosi mereka. Kita cukup berkata, “Wah, sayang sekali ya es krimnya jatuh, kamu pasti sedih.” Kalimat sederhana ini menunjukkan bahwa kita sedang mempraktikkan Seni Berbicara pada Anak dengan cara menempatkan diri pada posisi mereka. Akibatnya, anak akan merasa lebih tenang karena mereka tahu bahwa orang tuanya memahami kekecewaan yang mereka rasakan tanpa perlu banyak drama.
Selain itu, penulis menekankan pentingnya memberikan informasi daripada sekadar memberikan perintah yang kaku. Perintah yang bernada menuntut sering kali memicu perlawanan alami dari anak. Sebaliknya, memberikan informasi tentang apa yang kita lihat akan mendorong anak untuk berpikir dan bertindak secara mandiri tanpa merasa tertekan oleh otoritas kita.
Mengatasi Konflik Tanpa Perlu Emosi Meledak
Banyak dari kita yang tumbuh besar dengan pola asuh yang mengedepankan hukuman dan teriakan. Akibatnya, kita sering kali mengulangi pola yang sama saat mendidik anak sendiri. Namun, buku ini menawarkan jalan keluar yang jauh lebih damai dan efektif melalui pemberian pilihan yang terbatas. Pilihan memberikan rasa kontrol kepada anak, sehingga mereka merasa memiliki andil dalam mengambil keputusan.
Misalnya, daripada kamu berteriak menyuruh anak memakai sepatu, cobalah menawarkan dua pilihan yang sama-sama menguntungkan. Kamu bisa bertanya, “Kamu mau pakai sepatu yang merah atau yang biru?” Dengan memberikan pilihan ini, kamu sedang menerapkan Seni Berbicara pada Anak untuk mengalihkan fokus dari keengganan memakai sepatu menjadi keputusan memilih warna. Strategi ini terbukti sangat ampuh meredam ego anak yang sedang berkembang tanpa perlu ada pihak yang merasa kalah.
Mengubah Kritik Menjadi Kerja Sama
Hukuman sering kali hanya menghasilkan kepatuhan sesaat yang berbalut rasa takut atau dendam. Oleh karena itu, penulis menyarankan kita untuk mencari solusi bersama daripada memberikan sanksi yang menyakitkan. Saat terjadi masalah, ajaklah anak duduk bersama dan tuliskan semua ide yang muncul untuk menyelesaikan konflik tersebut, termasuk ide yang terdengar konyol sekalipun.
Melibatkan anak dalam mencari solusi akan membuat mereka merasa lebih bertanggung jawab untuk menjalankan aturan yang telah mereka buat sendiri. Selain itu, cara ini melatih kemampuan problem solving mereka sejak dini. Kamu tidak lagi berperan sebagai polisi yang siap menghukum, melainkan sebagai mentor yang membimbing mereka memahami konsekuensi dari setiap perbuatan.
Membangun Rasa Percaya Diri Melalui Pujian yang Tepat
Memberikan pujian ternyata tidak semudah yang kita bayangkan selama ini. Sering kali kita hanya berkata “Pintar!” atau “Bagus!” yang sebenarnya tidak memberikan gambaran jelas tentang apa yang telah anak capai. Pujian yang terlalu umum seperti itu bahkan bisa membebani anak karena mereka merasa harus selalu menjadi “pintar” di mata kita.
Oleh sebab itu, buku ini memperkenalkan teknik pujian deskriptif. Fokuslah pada detail pekerjaan yang anak lakukan daripada memberikan label pada pribadinya. Katakanlah hal-hal seperti, “Ibu lihat kamu menaruh semua balok itu kembali ke dalam kotaknya, sekarang lantai jadi bersih sekali.” Pujian jenis ini memberikan insight nyata kepada anak tentang pencapaian mereka dan memicu rasa bangga yang sehat dari dalam diri sendiri.
Menghindari Label yang Mematikan Karakter
Selain pujian, kita juga harus sangat berhati-hati dengan label negatif yang sering kali terlontar saat kita sedang marah. Kalimat seperti “Kamu kok malas sekali” atau “Kamu memang ceroboh” bisa meresap ke dalam alam bawah sadar anak dan menjadi identitas diri mereka. Akibatnya, mereka akan berperilaku sesuai dengan label tersebut karena merasa memang begitulah diri mereka yang sebenarnya.
Menerapkan strategi dalam buku ini membantu kita memisahkan perilaku buruk dengan identitas anak. Kita bisa mengkritik tindakannya tanpa merusak harga dirinya. Katakanlah, “Mencoret dinding membuat Ibu merasa kesal karena dinding jadi kotor,” daripada berkata, “Kamu anak nakal karena mencoret dinding.” Perbedaan kecil dalam pemilihan kata ini memiliki dampak yang sangat besar bagi perkembangan mental anak di masa depan.
Transformasi Hubungan Orang Tua dan Anak di Indonesia
Konteks sosial di Indonesia yang masih menjunjung tinggi senioritas sering kali membuat komunikasi antara orang tua dan anak menjadi satu arah. Banyak anak yang merasa takut untuk mengutarakan pendapatnya karena khawatir dianggap tidak sopan atau membangkang. Namun, kehadiran panduan ini memberikan perspektif baru bahwa menghargai pendapat anak bukanlah sebuah kelemahan, melainkan investasi jangka panjang.
Anak muda di Indonesia sekarang sudah mulai menyadari pentingnya gentle parenting demi memutus rantai trauma antargenerasi. Buku ini menjadi alat perang yang sangat berguna untuk mewujudkan hal tersebut. Meskipun mungkin awalnya terasa canggung karena kita belum terbiasa dengan diksi yang lembut, konsistensi dalam mempraktikkan Seni Berbicara pada Anak akan membuahkan hasil berupa keharmonisan di dalam rumah tangga.
Selain itu, buku ini sangat relevan untuk para ayah yang ingin lebih terlibat aktif dalam pengasuhan. Sering kali para ayah merasa bingung bagaimana memulai obrolan yang mendalam dengan anak laki-lakinya tanpa terlihat kaku. Teknik-teknik yang Joanna dan Julie berikan sangat praktis sehingga siapa pun bisa langsung mencobanya di meja makan atau saat mengantar anak ke sekolah.
Komunikasi adalah Kunci Pertumbuhan
Menamatkan ulasan ini membawa kita pada sebuah kesimpulan bahwa mengasuh anak adalah sebuah proses belajar yang tidak pernah berakhir. Seni Berbicara pada Anak bukan tentang menjadi orang tua yang sempurna tanpa pernah marah, melainkan tentang menjadi orang tua yang sadar akan dampak dari setiap kata yang keluar dari mulutnya. Keadilan dan rasa hormat yang kita tanamkan lewat komunikasi akan tumbuh menjadi karakter yang kuat pada diri anak saat mereka dewasa nanti.
Rangkuman strategi dalam buku ini mengajak kamu untuk mulai melihat anak sebagai mitra, bukan sebagai bawahan yang harus selalu tunduk. Langkah kecil yang bisa kamu lakukan hari ini adalah mencoba mendengarkan satu cerita anakmu tanpa memotong atau memberikan koreksi sedikit pun. Rasakan perbedaannya saat kamu memberikan ruang bagi mereka untuk mengekspresikan diri secara bebas namun tetap terarah.
Dunia mungkin terasa makin sibuk, namun jangan biarkan kesibukan itu merenggut momen berharga untuk membangun jalinan rasa dengan buah hati. Kamu bisa memulai perubahan besar dari satu kalimat sederhana yang penuh empati malam ini.
Apakah kamu sudah siap mengubah gaya komunikasimu dan melihat senyuman yang lebih tulus dari wajah si kecil, atau kamu masih ingin mendalami teknik menangani tantrum yang sering kali menguji kesabaran itu?
Harga mulai Rp89.000 (Normal Rp129.000)
Dapatkan di sini ya, Bun…
Sinopsis:
Apa yang Anda lakukan dengan anak yang berteriak di carseat-nya, mencubit adik bayinya, menolak makan sayur, melempar buku di perpustakaan, atau lari-larian di supermarket? Buku yang disusun berdasarkan berbagai tantangan dan konflik umum ini merupakan “pertolongan pertama” untuk strategi komunikasi, termasuk bab yang membahas tentang anak-anak berkebutuhan khusus dan autisme.
Buku panduan yang ramah pengguna ini akan memberdayakan para orangtua dan pengasuhnya untuk menjalin hubungan yang menyenangkan dengan anak-anak berusia 2 tahun yang tidak bisa diajak bekerja sama, si 3 tahun yang kasar, si 4 tahun yang galak, si 5 tahun yang tidak bisa diatur, si 6 tahun yang egois, dan si 7 tahun yang tidak patuh. Semua tip dan cara yang ada dalam buku ini akan membantu anak untuk menjadi mandiri, mampu bekerja sama, dan mempererat hubungannya dengan orang tua, guru, saudara kandung, dan teman-teman sebayanya.
Jumlah Halaman : 428
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Tanggal Terbit : 21 Okt 2019
ISBN : 9786232165953
Bahasa : Indonesia
