7 Peninggalan Kerajaan Kutai yang Paling Penting dan Penjelasannya

Oleh Redaksi Pinggir • 09 Mei 2026
7 Peninggalan Kerajaan Kutai

Peninggalan Kerajaan Kutai yang paling utama terdiri dari tujuh buah. Prasasti Yupa yang menandai berakhirnya masa prasejarah di Nusantara karena memuat tulisan huruf Pallawa dalam bahasa Sanskerta. Selain Yupa, artefak berharga seperti Ketopong Sultan, Kalung Uncal, Pedang Sultan Kutai, Kura-kura Emas, Keris Bukit Kang, dan Tali Juwita melengkapi bukti kemegahan peradaban Hindu tertua di Indonesia ini. Seluruh peninggalan Kerajaan Kutai tersebut kini menjadi saksi bisu kejayaan sosial dan ekonomi di wilayah Kalimantan Timur sejak abad ke-4 Masehi.

Membayangkan kehidupan ribuan tahun lalu di tepi Sungai Mahakam mungkin terasa seperti dongeng belaka. Namun, keberadaan benda-benda ini membuktikan bahwa nenek moyang kita sudah mengenal sistem pemerintahan yang rapi dan memiliki kekayaan materi yang luar biasa. Kita tidak sekadar melihat tumpukan batu atau perhiasan emas kuno, melainkan membaca pesan dari masa lalu tentang kedermawanan seorang pemimpin.

Sejarah bukan sekadar hafalan angka tahun yang sering membosankan di bangku sekolah. Sebaliknya, narasi ini adalah jembatan yang menghubungkan identitas kita hari ini dengan akar budaya masa silam. Mari kita telusuri satu per satu warisan megah dari kerajaan yang pernah dipimpin oleh Raja Mulawarman ini.

Mengenal Sosok di Balik Megahnya Peninggalan Kerajaan Kutai

Sebelum membahas artefak-artefaknya, kita perlu memahami konteks kemunculan kerajaan ini. Kerajaan Kutai Martadipura berdiri sebagai entitas politik bercorak Hindu pertama di Nusantara. Peneliti sejarah sepakat bahwa kemunculan prasasti-prasasti di sini menjadi tonggak sejarah yang memisahkan kegelapan prasejarah dengan terangnya era literasi.

Kehadiran peninggalan Kerajaan Kutai menceritakan perpaduan harmonis antara pengaruh India dengan kearifan lokal masyarakat asli Kalimantan. Raja Mulawarman, sebagai pemimpin paling tersohor, mewariskan bukti-bukti fisik yang menunjukkan betapa makmurnya rakyat saat itu. Beliau bukan hanya penguasa yang tangguh, melainkan juga seorang hamba yang taat dan dermawan kepada para kaum Brahmana.

Pasasti Yupa di Museum Nasional.(museumnasional.or.id)
Pasasti Yupa di Museum Nasional.(museumnasional.or.id)

1. Prasasti Yupa: Tiang Pengikat Kurban yang Melegenda

Yupa merupakan prasasti paling ikonik yang menjadi wajah utama peradaban Kutai. Benda ini berbentuk tiang batu yang berfungsi untuk mengikat hewan kurban sebagai persembahan kepada para dewa. Menariknya, Yupa menyimpan pahatan kalimat menggunakan huruf Pallawa yang rapi dan bahasa Sanskerta yang indah.

Isi prasasti ini menceritakan silsilah raja-raja Kutai, mulai dari Kudungga yang bersifat lokal hingga Mulawarman yang sudah terpengaruh budaya India secara mendalam. Selain itu, tulisan tersebut mengisahkan kedermawanan Mulawarman yang menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana di tempat suci bernama Waprakeswara. Hal ini menunjukkan bahwa struktur ekonomi peternakan di Kalimantan kala itu sudah sangat maju dan mapan.

Ketopong Sultan Kerajaan Kutai
Ketopong Sultan Kerajaan Kutai. Sumber: kutaikartanegarablog

2. Ketopong Sultan: Mahkota Emas Penguasa Mahakam

Ketopong merupakan mahkota raja atau sultan yang terbuat dari emas murni dengan berat mencapai hampir dua kilogram. Bentuknya menyerupai branjangan dengan bagian belakang yang meninggi dan memiliki ukiran motif bunga yang sangat detail. Artefak ini mencerminkan keagungan martabat seorang penguasa Kutai saat memimpin upacara kebesaran.

Menemukan benda seindah ini di abad ke-19 membuktikan bahwa pengrajin emas di Nusantara sudah memiliki teknik tingkat tinggi ribuan tahun silam. Ketopong ini menjadi perlambang kekuasaan tertinggi yang sah dan sakral. Hingga saat ini, Ketopong asli tersimpan dengan aman di Museum Nasional Indonesia di Jakarta untuk menjaga nilai sejarahnya yang tak ternilai.

Kalung Uncal Kerajaan Kutai
Kalung Uncal Kerajaan Kutai. Sumber: Museum Mulawarman

3. Kalung Uncal: Perhiasan Emas dari India

Kalung Uncal merupakan perhiasan emas yang berhias relief cerita Ramayana dan memiliki berat mencapai 170 gram. Banyak ahli sejarah meyakini kalung ini berasal dari India, yang kemudian menjadi atribut resmi Sultan Kutai Kartanegara. Keberadaan kalung ini memperkuat bukti adanya hubungan perdagangan internasional yang aktif antara wilayah Nusantara dengan daratan Asia Selatan.

Hanya ada beberapa kalung serupa di dunia, dan salah satunya milik Kerajaan Kutai. Penggunaan Kalung Uncal dalam upacara-upacara adat menunjukkan bahwa status sosial seorang raja sangat terjaga melalui simbol-simbol perhiasan yang mewah. Kalung ini sekaligus mengingatkan kita pada kekayaan narasi budaya Ramayana yang sudah meresap kuat dalam tradisi lokal.

Kura-kura emas, Foto: Dok. Talde Brooklyn
Kura-kura emas, Foto: Dok. Talde Brooklyn

4. Kura-Kura Emas: Simbol Persahabatan Antarbangsa

Benda unik ini ditemukan oleh penambang emas di wilayah hulu Sungai Mahakam. Kura-kura emas tersebut merupakan persembahan dari seorang pangeran dari Kerajaan Tiongkok sebagai simbol persahabatan saat melamar putri Raja Kutai. Ukurannya mungkin tidak terlalu besar, namun detail emas yang membentuk tempurung kura-kura ini sungguh mengagumkan.

Kehadiran benda ini memberikan kita wawasan bahwa hubungan diplomatik antarkerajaan sudah terjalin sangat cair. Raja-raja Kutai bersikap terbuka terhadap bangsa asing, namun tetap menjaga kedaulatan wilayahnya sendiri. Kura-kura emas ini mewakili kisah diplomasi dan asmara yang mewarnai sejarah panjang Kalimantan Timur.

Pedang Sultan Kutai Kertanegara yang bertahtakan batu akik
Pedang Sultan Kutai Kertanegara yang bertahtakan batu akik. Sumber liputan6

5. Pedang Sultan Kutai: Keberanian yang Terpatri pada Logam

Pedang ini merupakan senjata tradisional yang terbuat dari emas padat pada bagian gagangnya. Gagang pedang tersebut memiliki ukiran berbentuk harimau yang sedang bersiap menerkam, sementara bagian ujung sarung pedangnya memiliki hiasan berbentuk buaya. Dua hewan ini mewakili simbol kekuatan di darat dan di air yang melindungi kekuasaan Sultan.

Pedang bukan sekadar alat perang, melainkan identitas ksatria yang menjunjung tinggi martabat kerajaan. Setiap goresan ukiran pada pedang ini membawa filosofi perlindungan terhadap rakyat. Sultan menggunakan pedang ini sebagai simbol kepemimpinan yang tegas namun penuh perhitungan.

Keris-Bukit Kang
Keris Bukit Kang

6. Keris Bukit Kang: Pusaka Sang Putri

Peninggalan berupa keris ini memiliki kaitan erat dengan legenda Putri Karang Melenu yang merupakan permaisuri Sultan Kutai Kartanegara yang pertama. Keris Bukit Kang merupakan senjata pusaka yang melambangkan keberanian dan harga diri seorang pemimpin perempuan. Bentuk luk atau lekukan pada keris ini memiliki makna filosofis tentang kehidupan manusia yang berliku namun tetap harus teguh.

Hingga saat ini, keris ini masih dianggap sebagai benda keramat dalam upacara adat tertentu di Kutai. Masyarakat memandang keris ini bukan sekadar senjata tajam, melainkan memiliki kekuatan spiritual yang menjaga keseimbangan alam. Warisan ini menunjukkan betapa kayanya budaya keris yang sudah berkembang sejak zaman dahulu.

Tali Juwita
Tali Juwita

7. Tali Juwita: Perlambang Tujuh Muara Sungai

Tali Juwita merupakan benang yang terdiri dari 21 ikatan dan melambangkan tujuh muara sungai yang mengaliri wilayah Kutai Kartanegara. Benang ini terbuat dari serat kain yang kuat dan sering muncul dalam upacara adat Bepelas. Penggunaan tali ini dalam ritual sakral bertujuan untuk memohon keselamatan dan kesuburan bagi seluruh rakyat yang tinggal di tepian sungai.

Filosofi di balik Tali Juwita mengajarkan kita tentang pentingnya air sebagai sumber kehidupan utama. Kerajaan Kutai sangat menghargai ekosistem sungai karena dari sanalah nadi ekonomi mereka berdenyut. Tali ini mengikat janji setia antara raja dengan rakyatnya untuk saling menjaga kesejahteraan bersama.

Membawa Semangat Sejarah ke Dalam Keseharian

Kita mungkin bertanya, apa gunanya mengetahui semua benda kuno ini bagi kehidupan kita di era digital? Menghargai sejarah tidak harus berarti kita hidup di masa lalu. Langkah kecil yang paling realistis adalah dengan mulai mengapresiasi kearifan lokal di sekitar kita. Misalnya, saat Anda melihat produk kerajinan tangan lokal, bayangkanlah semangat pengrajin emas Kutai yang terus mengalir hingga hari ini.

Selain itu, cobalah sesekali mengunjungi museum terdekat atau membaca satu artikel sejarah setiap minggu. Pengetahuan ini akan memperluas sudut pandang kita dalam melihat Indonesia. Kita akan menyadari bahwa bangsa ini memiliki fondasi yang kuat untuk menjadi bangsa yang besar dan berwibawa di mata dunia.

Penutup

Menyelusuri jejak peradaban lewat peninggalan Kerajaan Kutai menyadarkan kita bahwa identitas Indonesia terbangun dari fondasi yang sangat kokoh. Setiap artefak, mulai dari tiang batu Yupa hingga tali juwita, merajut narasi tentang kecerdasan, kedermawanan, dan ketangguhan nenek moyang kita. Sejarah bukan sekadar kumpulan benda mati di lemari kaca, melainkan ruh yang memberikan energi bagi kita untuk terus berkarya.

Mari kita terus merawat ingatan kolektif ini agar tidak lekang oleh arus zaman. Dengan memahami akar budaya sendiri, kita memiliki pijakan yang kuat untuk melompat lebih jauh di masa depan. Selamat menjelajahi sejarah Indonesia dan temukanlah kebanggaan dalam setiap lembar kisahnya.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Di mana lokasi penemuan Prasasti Yupa?

Prasasti Yupa ditemukan di daerah Muara Kaman, yang letaknya berada di pertemuan antara Sungai Mahakam dan Sungai Kedang Kepala di Kalimantan Timur.

Siapakah Raja Kutai yang paling dermawan?

Raja Mulawarman merupakan raja yang paling terkenal karena kedermawanannya, terutama saat menyumbangkan 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana.

Apa perbedaan Kerajaan Kutai Martadipura dan Kutai Kartanegara?

Kutai Martadipura adalah kerajaan Hindu tertua (era Mulawarman), sedangkan Kutai Kartanegara muncul belakangan, kemudian memeluk agama Islam dan menjadi kesultanan yang menguasai wilayah tersebut hingga era modern.

Mengapa peninggalan Kerajaan Kutai mayoritas terbuat dari emas?

Wilayah hulu Sungai Mahakam terkenal kaya akan sumber daya mineral, termasuk emas, sehingga para pengrajin pada masa itu banyak memanfaatkan emas untuk atribut kebesaran raja.

Di mana kita bisa melihat artefak asli Kerajaan Kutai saat ini?

Anda bisa mengunjungi Museum Nasional di Jakarta untuk melihat Prasasti Yupa dan Ketopong Sultan yang asli, serta Museum Mulawarman di Tenggarong untuk melihat replika dan koleksi kesultanan lainnya.

← Kembali ke Blog