Orang tua wajib mengenali 7 emosi anak yang mencakup rasa bahagia, sedih, marah, takut, terkejut, jijik, dan malu agar mampu merespons kebutuhan psikologis mereka secara tepat. Pemahaman terhadap 7 emosi anak ini membantu ayah dan ibu membimbing si Kecil mengelola perasaannya secara sehat tanpa memicu ledakan tantrum. Oleh karena itu, Anda memegang kunci utama dalam mengembangkan kecerdasan emosional buah hati sejak rentang usia dini.
Pernahkah Anda merasa bingung saat si Kecil tiba-tiba menangis histeris di pusat perbelanjaan tanpa alasan yang jelas? Kejadian semacam ini sering kali membuat orang tua merasa panik dan frustrasi menatap sekeliling. Banyak ayah dan ibu langsung melabeli anak sebagai sosok yang cengeng atau nakal akibat ketidaktahuan mereka. Padahal, anak-anak sebenarnya sedang berjuang keras memahami gejolak perasaan di dalam dada mereka sendiri. Mereka belum memiliki perbendaharaan kosakata yang cukup untuk menjelaskan apa yang sedang mereka alami. Oleh sebab itu, Anda sungguh memegang peranan krusial sebagai penerjemah sekaligus pembimbing bagi dunia batin mereka.
Mengenal Makna Emosi pada Usia Dini
Para ahli psikologi mendefinisikan emosi sebagai reaksi sadar yang melibatkan pengalaman subjektif, respons fisik, dan perubahan perilaku saat seseorang menghadapi suatu peristiwa. Anak-anak merasakan emosi sama intensnya dengan orang dewasa dalam rutinitas kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, mereka belum memiliki kendali yang matang atas reaksi tersebut karena bagian otak yang mengatur fungsi logika masih dalam tahap perkembangan awal. Memahami 7 emosi anak menjadi langkah krusial bagi Anda untuk memvalidasi perasaan mereka secara akurat. Anda pantang meremehkan apa yang mereka rasakan, sekecil apa pun masalah tersebut menurut kacamata orang dewasa. Selanjutnya, kita akan membedah satu per satu ragam perasaan yang sering muncul pada balita.
Membedah Ragam Emosi Dasar pada Balita
Setiap anak senantiasa membawa karakter yang amat unik, namun mereka semua mengalami spektrum perasaan yang beririsan serupa. Berikut adalah rincian perasaan yang wajib Anda pahami sebagai orang tua.
1. Bahagia
Perasaan ini muncul saat anak merasa aman, nyaman, dan lingkungan memenuhi kebutuhannya dengan sangat baik. Anak mengekspresikan rasa senang melalui senyuman lebar, tawa lepas, atau lompatan kegirangan tanpa henti. Anda perlu merespons kebahagiaan ini dengan ikut tersenyum dan memberikan pelukan hangat kepada mereka. Akibatnya, anak akan merasa Anda sungguh menghargai keberadaan dan kebahagiaan mereka.
2. Sedih
Kesedihan merupakan reaksi alami saat anak menghadapi kehilangan benda kesayangan atau menelan kekecewaan. Mereka mungkin menangis pelan saat mainan favoritnya patah atau saat teman bermainnya berpamitan pulang. Jangan pernah Anda melarang anak menangis saat mereka bersedih. Sebaliknya, Anda harus menyediakan bahu yang nyaman agar mereka leluasa menumpahkan air mata hingga dada mereka merasa lega.
3. Marah
Kemarahan sering kali berujung pada tantrum yang meledak-ledak di tempat umum. Perasaan ini timbul ketika anak merasa frustrasi karena gagal melakukan sesuatu atau tidak mendapatkan barang yang mereka inginkan. Menghadapi anak yang marah menuntut kesabaran tingkat tinggi dari pihak orang tua. Anda harus tetap menjaga ketenangan dan menghindari teriakan balasan agar situasi tidak memburuk secara drastis.
4. Takut
Anak balita memiliki imajinasi yang sangat liar dan terkadang sama sekali tidak masuk akal. Mereka sering merasa takut pada kegelapan kamar, suara guntur, atau bahkan badut perayaan ulang tahun. Anda sungguh tidak boleh menertawakan ketakutan mereka. Sebaliknya, Anda perlu meyakinkan mereka bahwa Anda selalu siaga melindungi mereka dari segala rupa bahaya.
5. Terkejut
Reaksi terkejut muncul sangat singkat ketika anak menemui hal baru yang tidak pernah mereka sangka sebelumnya. Misalnya, anak tersentak saat kotak mainan tiba-tiba terbuka atau saat telinga mereka mendengar suara klakson mobil yang amat keras. Perasaan ini bisa dengan cepat berubah wujud menjadi rasa senang atau justru rasa takut, sepenuhnya bergantung pada situasi yang mengikutinya.
6. Jijik
Anak-anak menunjukkan rasa jijik sebagai mekanisme pertahanan diri terhadap sesuatu yang mereka anggap tidak berwujud menyenangkan. Anda pasti sering melihat mereka menutup mulut rapat-rapat saat Anda menyuapkan sayuran jenis baru ke bibir mereka. Selain itu, mereka mungkin menghindar cepat saat hidung mereka mencium aroma yang menyengat tajam. Anda bisa mengenalkan hal-hal baru tersebut secara bertahap agar indra mereka perlahan terbiasa.
7. Malu
Perasaan malu biasanya mulai berkembang nyata saat anak menginjak usia dua hingga tiga tahun. Mereka mulai menyadari keberadaan orang lain dan merasa cemas terhadap penilaian lingkungan sekitar terhadap diri mereka. Anak yang malu sering bersembunyi di balik kaki Anda saat mereka bertemu kerabat jauh. Oleh karena itu, Anda jangan pernah memaksa mereka untuk langsung berinteraksi jika mereka belum merasa benar-benar siap.
Dampak Buruk Mengabaikan Perasaan Anak
Banyak orang tua zaman dahulu menerapkan pola asuh yang mengabaikan praktik validasi perasaan. Mereka sering menyuruh anak untuk segera berhenti menangis tanpa mencari tahu penyebab utamanya sama sekali. Akibatnya, anak belajar untuk memendam perasaan mereka sendiri dalam-dalam hingga mereka dewasa. Kebiasaan memendam perasaan ini menumbuhkan benih yang sangat berbahaya bagi kesehatan mental anak pada masa depan.
Anak yang tidak terbiasa mengenali emosinya cenderung tumbuh menjadi pribadi yang kesulitan berempati terhadap penderitaan sesama. Selain itu, mereka sering melampiaskan emosi negatif melalui perilaku agresif seperti memukul punggung teman atau merusak barang peninggalan orang lain. Anda tentu tidak ingin si Kecil tumbuh menjadi anak yang menyusahkan secara sosial. Oleh sebab itu, Anda wajib meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh kesah mereka setiap penghujung hari.
Mengenal emosi sejak dini
Termurah di Shopee, dapatkan di sini ya, Bun.
Melatih Kecerdasan Emosional Melalui Alat Peraga
Mengenalkan nama-nama perasaan kepada anak balita tidak selalu berjalan mulus jika Anda hanya mengandalkan penjelasan lisan semata. Anda membutuhkan media visual yang menarik untuk menjembatani pemahaman mereka yang masih sangat konkret. Penggunaan mainan kartu edukasi atau kartu pintar bergambar wajah dengan berbagai rupa ekspresi sangat membantu anak mengingat nama setiap perasaan.
Anda bisa mengajak anak bermain tebak ekspresi menggunakan kartu tersebut pada waktu santai sore hari. Saat Anda menunjukkan gambar wajah orang menangis, Anda meminta anak menyebutkan perasaan apa yang sedang tokoh tersebut rasakan. Permainan sederhana ini melatih mata mereka mengenali bahasa tubuh dan raut wajah orang lain. Jika Anda sedang mencari alat peraga visual yang aman dan berkualitas untuk mengenalkan 7 emosi anak secara menyenangkan, Anda bisa mengeksplorasi berbagai pilihan set mainan edukasi di berbagai toko daring terpercaya. Kami sangat menyarankan Anda memilih produk yang menampilkan gambar nyata dan menggunakan material kertas tebal agar mainan tersebut awet mendampingi proses belajar si Kecil.
Kesimpulan
Mendampingi perjalanan psikologis anak merupakan tugas seumur hidup yang senantiasa menantang namun sangat membahagiakan batin. Anda memegang peran fundamental dalam membantu anak mengenali dan mengelola perasaan mereka yang masih bergejolak hebat. Melakukan validasi terhadap spektrum perasaan anak secara konsisten akan menumbuhkan rasa percaya diri dan kecerdasan sosial yang kokoh.
Anda sama sekali tidak perlu menuntut diri sendiri untuk tampil menjadi orang tua yang sempurna tanpa cela sedikit pun. Hal terpenting adalah Anda selalu mau belajar dan berusaha memahami sudut pandang si Kecil. Mulailah hari ini dengan melakukan satu langkah kecil yang bermakna besar. Saat anak Anda menangis nanti, cobalah untuk berjongkok menyejajarkan mata Anda dengan mata mereka, peluk tubuh mungilnya, dan tanyakan apa yang sedang mereka rasakan menggunakan nada suara yang teramat lembut.
Referensi
-
Goleman, D. (2015). Emotional Intelligence: Mengapa EI Lebih Penting daripada IQ. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
-
Ekman, P. (2007). Emotions Revealed: Recognizing Faces and Feelings to Improve Communication and Emotional Life. New York: Henry Holt and Company.
-
Susanto, A. (2011). Perkembangan Anak Usia Dini: Pengantar dalam Berbagai Aspeknya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
-
Susanti, R. & Fauziah, N. (2018). Peran Pola Asuh Orang Tua terhadap Kecerdasan Emosional Anak Usia Prasekolah. Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro.