Penggunaan Kata Di yang Benar Sesuai EYD dan KBBI Terbaru

Oleh Redaksi Pinggir • 06 Mei 2026
Penggunaan kata di yang benar sesuai EYD dan KBBI

Penggunaan kata di yang benar sesuai EYD V dan KBBI bergantung penuh pada perannya, yaitu sebagai kata depan yang menunjukkan lokasi atau sebagai imbuhan pembentuk kata kerja pasif. Anda wajib menulis kata depan “di” secara terpisah dari kata yang mengikutinya, misalnya di rumah atau di kantor. Sebaliknya, Anda harus menulis awalan “di-” secara serangkai jika melekat pada kata kerja, contohnya dimakan, diminum, atau ditulis.

Mata kita pasti sering terganggu saat melihat tulisan di media sosial yang berantakan. Salah ketik pada penulisan “di” seolah menjadi pemandangan sehari-hari yang memicu perdebatan. Padahal, kesalahan kecil ini bisa menurunkan kredibilitas tulisan Anda secara drastis, baik saat menyusun caption promosi, mengirim pesan formal ke atasan, hingga menulis artikel blog. Oleh karena itu, mari kita bedah aturan ejaan ini secara tuntas tanpa teori yang membosankan agar tulisan Anda langsung naik kelas.

Mengapa Aturan Penulisan “Di” Sangat Penting untuk Kredibilitas Tulisan?

Sebagian orang menganggap remeh urusan spasi pada kata “di”. Mereka merasa pembaca tetap akan memahami maksud kalimat tersebut walau tata bahasanya keliru. Akan tetapi, bagi audiens yang kritis, kesalahan ejaan yang berulang memperlihatkan sikap penulis yang kurang teliti dan tidak profesional.

Selain itu, mesin pencari seperti Google juga semakin cerdas dalam menilai kualitas konten tulisan. Artikel yang rapi dan minim kesalahan tik cenderung mendapatkan penilaian lebih baik karena memberikan kenyamanan maksimal bagi pengguna. Jadi, menguasai aturan ini bukan hanya soal patuh pada guru bahasa Indonesia, melainkan juga tentang cara kita menghargai pembaca.

Memahami Konsep Utama Dua Jenis “Di” dalam Tata Bahasa

Langkah pertama yang wajib Anda kuasai adalah mengenali identitas dari kata “di” itu sendiri. Dalam kaidah bahasa Indonesia, “di” mengemban dua tugas yang bertolak belakang. Akibatnya, perlakuan terhadap keduanya pun tidak boleh Anda samakan.

1. Peran “Di” sebagai Kata Depan (Preposisi)

Ketika Anda ingin menunjukkan posisi, arah, atau tempat keberadaan sesuatu, maka “di” sedang bertugas sebagai kata depan. Karena fungsinya adalah sebagai penunjuk, kata ini berdiri sendiri sebagai satu kata utuh yang mandiri.

Oleh karena itu, Anda harus memberi jarak berupa spasi antara kata “di” dengan kata penunjuk tempat setelahnya. Jika Anda menggabungkannya, pembaca akan kesulitan menangkap struktur kalimat Anda dengan cepat.

2. Peran “Di-” sebagai Awalan (Prefiks) Kata Kerja

Kondisi akan berubah total ketika Anda memasangkan kata “di” dengan sebuah kata tindakan. Di sini, “di-” beralih fungsi menjadi sebuah imbuhan atau prefiks yang bertugas membentuk kata kerja pasif.

Sebagai sebuah imbuhan, “di-” tidak dapat berdiri sendiri dan membutuhkan kata dasar untuk membentuk makna baru. Akibatnya, Anda wajib menyatukan penulisannya tanpa ada sekat spasi sama sekali.

Rumus Praktis Membedakan Kata Depan dan Awalan Tanpa Menghafal

Anda tidak perlu membuka kamus tebal setiap kali ingin mengetik satu kalimat. Faktanya, para penulis profesional selalu menggunakan dua trik cepat berikut ini untuk memeriksa akurasi tulisan mereka dalam hitungan detik.

Trik Pertama: Uji dengan Kata “Ke” dan “Dari”

Trik ini sangat efektif untuk menguji apakah kata “di” yang Anda gunakan berfungsi sebagai penunjuk lokasi atau bukan. Cobalah mengganti kata “di” dalam kalimat Anda dengan kata depan “ke” atau “dari”.

Apabila kalimat tersebut tetap terdengar logis dan masuk akal, berarti kata “di” tersebut merupakan kata depan. Dengan demikian, Anda wajib memisahkan penulisannya menggunakan spasi.

Mari kita ambil contoh kalimat ini: Rapat berlangsung di aula. Sekarang, ganti kata tersebut menjadi: Rapat beralih ke aula atau Kami pulang dari aula. Karena kedua kalimat baru tersebut tetap bermakna, maka penulisan di aula harus terpisah.

Trik Kedua: Uji dengan Mengubahnya Menjadi Kata Aktif “Me-“

Sebaliknya, jika Anda mencurigai kata tersebut sebagai kata kerja, gunakanlah trik kedua ini. Cobalah mengubah kata kerja pasif tersebut menjadi kata kerja aktif dengan mengganti awalan “di-” menjadi “me-“.

Jika Anda berhasil mengubah kata tersebut dan kalimatnya tetap memiliki makna yang jelas, maka kata tersebut adalah kata kerja pasif. Oleh karena itu, Anda harus menulisnya secara serangkai atau tersambung.

Perhatikan contoh berikut: Artikel itu ditulis oleh Andi. Kita bisa mengubahnya menjadi kalimat aktif: Andi menulis artikel itu. Karena proses konversi ke awalan “me-” berjalan lancar, maka penulisan yang benar adalah ditulis (tanpa spasi).

Contoh Penggunaan Kata “Di” Berdasarkan Kategori

Agar Anda mendapatkan gambaran yang jelas dan nyata, berikut adalah rangkuman contoh kasus yang sering muncul dalam aktivitas menulis sehari-hari.

Penulisan Kata Depan yang Benar (Wajib Dipisah)

No Contoh Kalimat Analisis Penulisan
1 Dompet saya tertinggal di dalam mobil. “di” diikuti kata penunjuk posisi/arah (dalam).
2 Kami akan mengadakan pertemuan di Bali. “di” diikuti nama kota atau wilayah geografis.
3 Ibu sedang berbelanja di pasar tradisional. “di” menunjukkan lokasi fasilitas umum.
4 Kucing itu senang tidur di atas lemari. “di” menunjukkan posisi ruang yang spesifik.
5 Jangan membuang sampah di bawah meja kerja. “di” menunjukkan lokasi area tertentu.

Sebagai Awalan Kata Kerja yang Benar (Wajib Disambung)

No Contoh Kalimat Analisis Penulisan
1 Surat resmi itu sudah ditandatangani oleh Direktur. Kata kerja pasif (Bentuk aktif: menandatangani).
2 Kamar tidur adik sudah dibersihkan sejak pagi. Kata kerja tindakan (Bentuk aktif: membersihkan).
3 Laptop baru itu dibeli dengan uang tabungan. Kata kerja transaksi (Bentuk aktif: membeli).
4 Lagu lawas itu dinyanyikan kembali dengan indah. Kata kerja seni (Bentuk aktif: menyanyikan).
5 Rencana kerja kita harus disusun secara rapi. Kata kerja proses (Bentuk aktif: menyusun).

Kekeliruan Populer yang Sering Terjadi (Salah vs Benar)

Penulisan yang Salah Penulisan yang Benar Alasan Koreksi Sesuai EYD
di jual dijual Merupakan kata kerja pasif, bukan nama tempat.
di rumah sakit di rumah sakit Menunjukkan tempat, penulisan sudah benar dipisah.
di balik dibalik (jika membalikkan benda) Jika berarti posisi, tulis di balik (dipisah).
di tumpuk ditumpuk Merupakan tindakan pasif, wajib gabung.
dikantor di kantor Kantor adalah nama tempat, wajib pisah dengan spasi.

Kasus Khusus Penulisan “Di” yang Sering Membingungkan Penulis

Selain aturan dasar di atas, kita sering kali menemui beberapa kata tiruan atau kombinasi bahasa yang membuat ragu. Bagian ini akan membahas pengecualian dan kasus spesifik tersebut agar Anda tidak salah langkah lagi.

Penulisan Kata “Di mana”, “Di sini”, “Di sana”, dan “Di situ”

Banyak sekali penulis blog yang masih menyambung penulisan kata-kata ini menjadi dimana atau disini. Alasan mereka biasanya karena menganggap kata tersebut sebagai satu kesatuan kata ganti.

Namun, aturan EYD V menegaskan bahwa kata mana, sini, sana, dan situ merupakan penunjuk arah atau tempat abstrak. Akibatnya, Anda wajib memisahkan penulisan kata “di” di depan kata-kata tersebut.

  • Benar: Saya tidak tahu di mana ia membeli sepatu itu.

  • Salah: Tolong letakkan saja barangnya disini. (Seharusnya: di sini).

Kombinasi dengan Kata Imbuhan Asing atau Istilah Bahasa Inggris

Pada era digital ini, kita sering menyerap istilah asing ke dalam komunikasi sehari-hari, misalnya kata download atau publish. Bagaimana aturan penulisannya jika mendapatkan awalan “di-“?

Jika Anda menggunakan kata asing yang belum diserap secara resmi, Anda wajib menggunakan tanda hubung (-) setelah awalan “di” dan menulis kata asing tersebut dengan huruf miring. Sebaliknya, jika kata tersebut sudah memiliki padanan resmi, utamakanlah penggunaan kata bahasa Indonesia agar kalimat terlihat lebih rapi.

  • Kurang Tepat: Foto itu diupload kemarin siang.

  • Benar (Bentuk Asing): Foto itu di-upload kemarin siang.

  • Sangat Direkomendasikan: Foto itu diunggah kemarin siang.

Imbuhan Ganda atau Konfiks (di-…-kan / di-…-i)

Kadang-kadang, sebuah kata dasar menerima dua imbuhan sekaligus di awal dan di akhir kata. Ketika menghadapi situasi ini, Anda tidak perlu bingung. Seluruh elemen kata tersebut harus melekat erat tanpa ada spasi di tengahnya.

  • di + ambil + kan menjadi diambilkan (bukan di ambilkan).

  • di + lari + kan menjadi dilarikan (bukan di larikan).

  • di + hobi + i menjadi dihobiiskan (imbuhan ganda tetap serangkai).

Langkah Kecil untuk Membina Refleks Menulis Tanpa Salah Ketik

Mengubah kebiasaan lama memang membutuhkan sedikit usaha dan konsistensi. Namun, Anda tidak perlu merasa terbebani untuk menghafal seluruh kaidah bahasa dalam satu malam. Kita bisa melatih kepekaan tata bahasa ini melalui aktivitas sederhana yang kita lakukan setiap hari.

Langkah pertama yang paling realistis adalah dengan memeriksa kembali pesan teks atau caption media sosial Anda sebelum menekan tombol kirim. Sempatkan waktu sekitar tiga detik untuk mempraktikkan trik uji kata “ke/dari” atau awalan “me-” yang sudah kita bahas sebelumnya. Proses pengecekan mandiri yang sederhana ini, jika Anda lakukan secara konsisten, akan melatih otak Anda untuk membangun refleks menulis yang akurat secara otomatis.

Selain itu, manfaatkan teknologi di sekitar Anda secara bijak. Anda bisa mengaktifkan fitur deteksi ejaan bahasa Indonesia pada aplikasi pengolah kata di ponsel atau komputer sebagai jaring pengaman awal. Meskipun alat bantu tersebut sangat membantu, insting dan pemahaman Anda sendiri tetap menjadi senjata utama dalam menghasilkan tulisan yang berkualitas. Mulailah menghargai karya Anda melalui kerapian detail-detail kecil hari ini, karena kualitas pesan Anda mencerminkan kualitas profesionalisme Anda di mata dunia.

← Kembali ke Blog