Buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring karya dr. Andreas Kurniawan, Sp. Kj merupakan sebuah memoar reflektif yang menceritakan perjalanan seorang pria menghadapi kehilangan mendalam melalui kegiatan sederhana di dapur. Penulis menguraikan bagaimana aktivitas domestik seperti mencuci piring membantu seseorang memproses kesedihan, menemukan kembali kendali diri, dan mencapai ketenangan batin di tengah badai emosi. Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring menawarkan perspektif unik bahwa kesembuhan mental sering kali muncul dari rutinitas fisik yang konsisten dan penuh kesadaran.
Rp80.750 (Normal Rp95.000)
Dapatkan di sini ya, Bun.
Bahasa: Indonesia | Halaman: 212 Halaman | Penulis: dr. Andreas Kurniawan, Sp. Kj
Sinopsis:
Ketika menyambut pasien yang sedang berduka, seorang psikiater akan menggali keilmuan yang dimiliki. Dia akan mengulik semua teori duka di masa kuliah dulu dan mengingat pengalaman dari pasien-pasien sebelumnya. Kemudian, dia menyintesis itu untuk membantu pasien yang sedang berduka di hadapannya.
Tapi, ketika Andreas—seorang psikiater—kehilangan anaknya, dia melakukan hal yang berbeda. Dia melemparkan semua teori tersebut ke luar jendela dan memutuskan untuk mencari makna tentang mengapa ini semua terjadi. Dalam pengalamannya, dia menemukan bahwa duka bisa dilalui dengan mencuci piring kotor yang menumpuk di dapur.
Buku ini adalah proses Andreas memaknai kehilangan besar dalam hidupnya. Ia menceritakan santai dengan tambahan sedikit bumbu humor gelap, buku ini memuat panduan bermanfaat yang langsung bisa diaplikasikan dalam hidup, seperti: “Tutorial Mencuci Piring”, “Tutorial Menyusun Puzzle”, dan tentunya “Tutorial Menerima Kematian Seorang Anak”.
“Hampir semua orang mempertanyakan: apa hubungannya antara duka dan mencuci piring? Jawaban saya adalah duka itu seperti mencuci piring, tidak ada orang yang mau melakukannya, tapi pada akhirnya seseorang perlu melakukannya.”
Kutipan:
Proses berduka adalah proses panjang dan biarkan setiap orang memiliki momennya sendiri dalam menerima dan menikmati hal itu.
Cuci piring itu seperti berduka. Tidak ada orang yang suka melakukannya, tapi pada akhirnya, seorang harus melakukannya.
Ingatlah bahwa apa yang hilang bisa diganti, tapi tidak sellau harus diganti. Kehilangan seorang pasangan bukan berarti kamu harus menggantinya dengan pasangan baru. Kehilangan seorang anak bukan berarti sepasang orangtua perlu segera merencanakan program hamil lagi. Tapi, rasa sepi, rasa sendiri, rasa tidka berdaya, rutinitas, itu yang bisa—dan perlu—diganti.
Berduka itu wajar. Tetapi ketika kita melekat dengan pikiran berduka, maka itu akan berkembang jadi penolakan akan realitas dan ketidakberdayaan. Berdukalah sewajarnya.
Maka, bila hidup terus berlanjut, rayakanlah hidupmu dengan orang yang masih ada. Sediakan waktu, tenaga, dan mungkin sedikit dana, untuk menemui mereka. Bertukar cerita dengan mereka. Kamu tidak perlu menceritakan tentang kesedihanmu. Berceritalah tentang film superhero yang baru kamu tonton….
Penerimaan itu bukan sesuatu yang pasif dan kita membiarkan dunia menghantam kita dengan segala rasa sakitnya. Penerimaan adalah perilaku aktif dan kita diminta merespons serta memilih apa yang perlu diterima dan apa yang tidak.
Duka adalah suatu lari maraton yang panjang. Hanya karena satu tahun berlalu dan kamu sudah merasa baik-baik saja, bukan berarti perjalanan maratonmu selesai. Ini adalah proses mencuci piring seumur hidup yang akan kujalani secara berkala.Orang yang berduka mengetahui bahwa hidup akan terus berlanjut. Tapi, mereka bingung bagaimana melanjutkan hidup tanpa seseorang yang dulu menemaninya. Bahkan, bisa jadi kehilangan alasan untuk bertahan hidup setelah seseorang itu pergi.Ketika ditanyakan sampai kapan mereka akan berduka, mereka mungkin akan menjawab, “selama yang kami bisa.” Tidak sedih, tidak menangis, hanya berduka.Kita tetap bisa menjadi normal setelah semua yang terjadi. Mungkin normal baru yang berbeda dengan yang dulu kita kenal. Dalam melewati duka, tiap orang berhak untuk menentukan normalnya sendiri, asal tidak mengganggu orang lain.
