Mentalitet Korea bukan sekadar istilah viral yang melontar dari mulut Bambang Pacul di ruang rapat DPR. Buku “Mentalitet Korea Jalan Ksatria” karya Puthut EA ini mengupas tuntas filosofi hidup ala “korea”: mereka yang lahir dari lapisan bawah, tidak punya apa-apa, tetapi memiliki daya juang luar biasa untuk melenting ke atas. Resensi Mentalitet Korea ini akan membawa Anda mengenal sosok Komandan Bambang Pacul sekaligus meneladani cara berpikir tahan banting ala wong cilik. Pada akhirnya, membaca buku Mentalitet Korea mengajarkan kita bahwa semakin keras kehidupan membanting, justru di situlah panggilan untuk melenting lebih tinggi.
Saya yakin Anda sering mendengar potongan kalimat “korea, korea” yang disematkan pada Komandan Pacul. Namun apa sebenarnya makna kata itu? Dan mengapa buku setebal 129 halaman ini langsung ludes terjual ribuan eksemplar dalam sepuluh hari pertama? Mari kita bedah bersama.
Asal-usul Istilah “Korea” yang Tidak Ada Hubungannya dengan K-Pop
Sebelum melangkah lebih jauh, lupakan dulu drama Korea atau boyband K-pop. Komandan Bambang Pacul meminjam istilah “korea” dari kultur Jawa. Dalam bahasa Jawa, kata ini merujuk pada mereka yang berasal dari kelas sosial menengah ke bawah. Para korea adalah orang-orang dengan keberanian nekat, daya juang super, dan punya seribu cara untuk bertahan hidup .
Saya sempat terkaget ketika pertama kali tahu penjelasan ini. Selama ini kita mengasosiasikan Korea dengan wajah mulus idola K-pop atau alur cerita drakor yang bikin baper. Ternyata Komandan Pacul membalik maknanya menjadi sesuatu yang lebih membumi. Ia menyebut anggota dewan sebagai para korea yang tidak bisa dilobi sembarangan. Mereka adalah ksatria yang patuh pada pimpinan partai dan mengabdi pada rakyat .
Puthut EA, penulis buku ini, kemudian mengemas gagasan besar Komandan Pacul menjadi bacaan ringan. Ia tidak menulis seperti laporan akademik. Ia seperti mengajak kita ngobrol di warung kopi, tetapi tetap berbobot.
Buku pertama. Dapatkan bukunya di sini
Siapa Itu Komandan Bambang Pacul
Bambang Pacul, nama lengkapnya Bambang Wuryanto, bukanlah politisi biasa. Sebelum dikenal sebagai tokoh nasional, ia memulai karier dari bawah. Setelah lulus SMA Negeri 1 Solo, ia melanjutkan pendidikan ke Fakultas Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada. Uniknya, ia memilih jurusan itu bukan karena prospek masa depan, melainkan karena gengsi dan kebanggaan .
Saat kuliah di UGM, ia mulai aktif berorganisasi di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Ia bahkan sempat menjabat Ketua Komisariat GMNI Fakultas Teknik UGM. Ketertarikannya pada Bung Karno mendorongnya memilih GMNI. Baginya, Bung Karno adalah sosok hangat, cerdas, dan menginspirasi.
Kini, Komandan Pacul menjabat sebagai Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan DPR RI. Ia dikenal sebagai salah satu jagoan tempur darat partai. Namun yang membuatnya dicintai anak muda bukan jabatan. Melainkan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, jenaka, tetapi penuh makna. Ia tidak sungkan menyebut dirinya korea tulen.
Filosofi “Melenting”: Semakin Keras Ditekan, Semakin Tinggi Melambung
Inti buku ini terletak pada satu kata: melenting. Komandan Pacul mengibaratkan hidup seperti bola karet. Semakin keras Anda membantingnya ke tanah, ia akan melenting semakin tinggi . Orang dengan mentalitet korea tidak loyo ketika hidup menekan. Sebaliknya, mereka menjadikan tekanan sebagai batu loncatan.
Proses melenting tidak mudah. Para korea harus memulainya dari nol. Minim uang, minim koneksi, dan minim akses pendidikan sering kali menjadi tantangan awal. Namun mereka tidak menyalahkan keadaan. Mereka sadar bahwa setiap orang dilahirkan dalam kondisi berbeda, sehingga beberapa orang harus berjuang lebih keras .
Langkah pertama yang dilakukan korea sejati adalah mengenali diri. Apakah ia punya minat di bidang pendidikan, bisnis, atau kekuasaan? Dari pengenalan itulah ia menentukan jalur untuk melenting. Bisa lewat pendidikan tinggi, membangun usaha, atau terjun ke politik praktis.
Mencari Galah: Mentoring ala Jawa
Untuk melenting lebih cepat, seorang korea harus menemukan “galah”. Galah atau tongkat panjang dalam falsafah Jawa ini ibarat mentor atau sosok panutan. Dengan bantuan galah, proses melenting menjadi lebih singkat dan terarah .
Namun tidak sembarang orang bisa mendapatkan galah. Komandan Pacul mengajarkan proses “Asah, Asih, Asuh” yang harus dilakukan secara berurutan.
Asah berarti mengasah. Seorang korea harus mencari informasi sebanyak mungkin tentang galah yang dituju. Ia perlu memperkaya diri dengan pengetahuan dan minat yang sama. Tujuannya agar sang galah merasa memiliki teman sepadan.
Asih berarti kasih sayang. Setelah pengetahuan cukup, saatnya mendekat dengan penuh perhatian. Korea harus siap mendengarkan semua kisah keluh kesah galahnya tanpa bosan.
Asuh berarti membimbing. Ketika galah sudah merasa nyaman, barulah terjalin hubungan timbal balik. Korea dan galahnya saling membimbing, saling mendukung impian satu sama lain.
Saya merasa falsafah ini sangat relevan dengan dunia kerja modern. Banyak anak muda gagal karena terburu-buru minta bimbingan tanpa membangun kedekatan emosional terlebih dahulu. Komandan Pacul mengingatkan bahwa proses membutuhkan kesabaran.

Buku kedua. Dapatkan bukunya di sini
Senjata Korea: Senyum, Sapa, Salam
Pada tahap awal perjuangan, seorang korea belum punya apa-apa. Ia tidak punya jabatan, tidak punya kekayaan, dan mungkin belum punya kepandaian istimewa. Namun ia punya tiga senjata pamungkas: senyum, sapa, salam .
Kelihatannya sederhana. Namun coba renungkan, berapa banyak orang yang sombong ketika baru mendapat posisi sedikit? Atau berapa banyak yang malas menyapa karena merasa sudah di atas? Komandan Pacul justru mengajarkan sebaliknya. Semakin rendah hati Anda, semakin banyak orang yang akan membantu.
Dalam proses ini, para korea pasti menerima hinaan dan cacian. Mereka tidak boleh emosional apalagi tinggi hati. Saat masih di bawah, mereka harus terus sabar bertahan sambil memperkaya pengetahuan dan pengalaman.
Setelah Melenting: Jangan Lupa Daratan
Puncak dari perjuangan korea adalah ketika ia berhasil melenting ke atas. Ia memiliki wirya (jabatan), harta (kekayaan), dan wasis (kepandaian). Namun di sinilah ujian sesungguhnya dimulai.
Komandan Pacul mengingatkan agar para korea tidak lupa diri. Seorang korea sejati harus selalu ingat bahwa sebelum melenting, ia pernah berada di bawah, dalam kehidupan yang sangat susah. Bisa hidup saja sudah bersyukur, apalagi bisa makan .
Ia juga menekankan pentingnya empati kepada kaum miskin papa. Kehendak untuk berbelarasa terhadap orang-orang di lapisan sosial bawah harus mandarah daging. Sebab bagaimana pun, seorang korea tidak boleh menjadi sombong hanya karena kini posisinya di atas.
Dalam budaya Jawa, seorang pemimpin setidaknya harus memiliki tiga hal: ngayomi (memberi rasa aman), ngayemi (memberi rasa nyaman), dan ngayani (menguatkan) . Dengan pengalaman pahit di masa lalu, para korea seharusnya lebih memahami bagaimana memperlakukan anak buah dengan baik.
Gaya Penulisan yang Ringan tetapi Membumi
Saya harus mengapresiasi cara Puthut EA menulis buku ini. Ia tidak menggunakan bahasa formal yang kaku. Ia seolah sedang berbincang santai dengan Anda. Banyak analogi keseharian yang membuat pembaca mudah menangkap pesan.
Buku ini juga dilengkapi ilustrasi menarik. Halaman-halamannya tidak terlalu padat, sehingga mata tidak cepat lelah. Anda yang malas membaca buku tebal sekalipun akan betah menghabiskan 129 halaman ini.
Namun catatan penting: buku ini tidak disusun secara sistematis seperti buku motivasi pada umumnya. Puthut lebih memilih alur naratif yang kadang melompat-lompat. Bagi Anda yang terbiasa dengan buku pengembangan diri yang rapi, mungkin akan merasa sedikit janggal.
Apakah Buku Ini Cocok untuk Anda
Tanyakan pada diri sendiri: Apakah Anda merasa hidup ini berat? Apakah Anda merasa tidak punya modal apa pun untuk bersaing? Apakah Anda lelah mencoba tetapi belum juga berhasil?
Jika jawabannya ya, saya yakin Anda akan mendapat energi baru dari buku ini. Komandan Pacul membuktikan bahwa ia pun memulai dari bawah. Ia tidak punya warisan kekayaan atau koneksi istimewa. Yang ia miliki hanyalah mentalitet korea: tahan banting, tidak mudah menyerah, dan selalu mencari cara.
Namun jika Anda mencari buku yang memberikan tips teknis untuk sukses (bisnis, investasi, karier), jangan harapkan dari buku ini. Mentalitet Korea lebih banyak membahas soal pola pikir dan falsafah hidup. Ia mengajak Anda mengubah cara pandang, bukan memberikan langkah-langkah praktis instan.
Jadilah Korea Sejati!
Maka dari itu, resensi Mentalitet Korea ini mengajak Anda merefleksikan satu hal. Apakah Anda sudah memiliki mental seorang korea? Apakah Anda malu jika berhenti sebelum berhasil? Masih bersedia tersenyum meski hidup terus membanting?
Buku ini tidak menjanjikan kesuksesan instan. Ia menawarkan jalan panjang yang melelahkan. Namun dengan mentalitet korea, setiap tekanan akan melentingkan Anda lebih tinggi.
Setelah membaca, luangkan waktu sejenak. Cari satu galah yang bisa membantu Anda melenting. Bisa seorang mentor senior, bisa seorang teman yang sudah sukses, atau bahkan seorang pemimpin yang Anda kagumi. Pelajari ia. Dekati ia. Hormati ia. Pada waktunya, Anda akan melenting.
Buku ini layak Anda baca, simpan di rak, dan baca ulang saat semangat mulai merosot. Selamat menjadi korea tulen. Semakin keras terbanting, semakin tinggi melenting.
FAQ tentang Buku Mentalitet Korea
1. Apakah buku ini hanya cocok untuk pembaca yang tertarik pada politik?
Sama sekali tidak. Meskipun menampilkan figur politisi senior, buku ini lebih banyak membahas falsafah hidup universal. Komandan Pacul menggunakan pengalaman politiknya sebagai latar, tetapi pesan-pesan seperti ketahan-bantingan, kerendahan hati, dan pentingnya mentor bisa diterapkan di bidang apa pun. Bahkan mahasiswa, wiraswasta, atau pekerja kantoran pun akan mendapat banyak pelajaran.
2. Berapa tebal buku ini dan apakah mudah dibaca?
Buku ini memiliki 129 halaman dengan ukuran sedang. Gaya penulisan Puthut EA sangat ringan dan mengalir. Anda bisa menyelesaikannya dalam satu atau dua hari jika membaca santai. Ilustrasi-ilustrasi di dalamnya juga membantu agar mata tidak cepat lelah.
