Penggunaan kata “di” yang benar bergantung pada fungsinya dalam kalimat: jika “di” berfungsi sebagai kata depan (preposisi), padahal seharusnya penulisannya dipisah dari kata yang mengikutinya, misalnya di rumah atau di Jakarta. Oleh karena itu, jika “di” berfungsi sebagai awalan (prefiks) yang membentuk kata kerja pasif, penulisannya disambung, seperti dibeli, dimakan, atau ditulis. Aturan ini berlaku konsisten dalam ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD V).
Salah tulis “di” adalah kesalahan yang paling sering muncul di caption media sosial, laporan kerja, hingga artikel blog. Padahal, bedanya cuma satu hal kecil: disambung atau dipisah. Kalau kamu sering ragu saat mengetik — berhenti sejenak, artikel ini akan menuntaskan kebingungan itu sampai tuntas.
Memahami Dua Fungsi “Di” dalam Bahasa Indonesia
Sebelum masuk ke contoh, penting untuk memahami bahwa kata “di” dalam bahasa Indonesia memiliki dua fungsi yang benar-benar berbeda. Keduanya memang tampak serupa, tetapi cara penulisannya tidak sama.
“Di” sebagai Kata Depan (Preposisi)
Kata depan “di” menyatakan tempat, posisi, atau lokasi. Fungsinya menjawab pertanyaan “di mana?” Karena statusnya adalah kata yang berdiri sendiri, penulisannya selalu terpisah dari kata yang mengikutinya.
Cara paling mudah mengenalinya: coba ganti “di” dengan kata depan lain seperti “ke” atau “dari”. Kalau kalimatnya masih masuk akal, berarti “di” itu adalah kata depan dan harus dipisah.
Contoh:
- Ibu memasak di dapur. → bisa diganti: Ibu pergi ke dapur.
- Buku itu ada di atas meja. → lokasi, dipisah.
“Di-” sebagai Awalan Kata Kerja Pasif
Awalan “di-” membentuk kata kerja pasif. Artinya, subjek dalam kalimat menerima tindakan, bukan melakukan tindakan. Awalan ini melekat langsung pada kata kerja dan tidak bisa berdiri sendiri.
Cara cepat mengenalinya: coba ubah kalimatnya menjadi kalimat aktif dengan awalan “me-“. Kalau bisa diubah, berarti “di-” itu awalan dan harus disambung.
Contoh:
- Dimakan siapa kue ini? → kalimat aktifnya: Siapa yang memakan kue ini?
- Ditulis oleh Pramoedya. → kalimat aktifnya: Pramoedya menulis itu.
Trik Cepat Membedakan Keduanya
Banyak orang kesulitan bukan karena tidak tahu aturannya, melainkan karena tidak punya cara praktis untuk mengecek. Berikut dua trik yang bisa langsung kamu pakai.
Trik 1 — Uji “ke” atau “dari” Ganti “di” dengan “ke” atau “dari”. Kalau kalimat tetap logis, berarti itu kata depan → tulis terpisah.
Dia duduk di kursi. → Dia berjalan ke kursi. ✓ → di kursi (pisah)
Trik 2 — Uji “me-” Ubah kalimat pasif menjadi kalimat aktif dengan mengganti “di-” menjadi “me-“. Kalau berhasil, berarti itu awalan → tulis sambung.
Dibaca oleh guru. → Guru membaca itu. ✓ → dibaca (sambung)
Kalau sudah hafal dua trik ini, kamu tidak perlu lagi menghafal semua pengecualian satu per satu.
30 Contoh Penggunaan Kata “Di” yang Benar
Tabel berikut memperlihatkan contoh nyata dari kehidupan sehari-hari. Perhatikan pola pada kolom “Alasan” — di sanalah kunci pemahamannya.
| No | Penulisan | Benar/Salah | Alasan |
|---|---|---|---|
| 1 | Saya tinggal di Yogyakarta. | Benar | “di” = kata depan, menunjukkan lokasi |
| 2 | Buku itu dibeli Mama kemarin. | Benar | “di-” = awalan, kata kerja pasif dari “membeli” |
| 3 | Anak-anak bermain di lapangan. | Benar | “di” = kata depan, menunjukkan tempat |
| 4 | Surat itu sudah dikirim tadi pagi. | Benar | “di-” = awalan, kata kerja pasif dari “mengirim” |
| 5 | Kucing itu tidur di atas sofa. | Benar | “di” + “atas” = frasa preposisi, dipisah |
| 6 | Nasi goreng itu dimasak oleh Pak Budi. | Benar | “di-” = awalan, kata kerja pasif dari “memasak” |
| 7 | Mereka bertemu di kantor pusat. | Benar | “di” = kata depan, menunjukkan lokasi |
| 8 | Proposal sudah ditandatangani direktur. | Benar | “di-” = awalan pasif dari “menandatangani” |
| 9 | Laptop itu di taruh di meja. | Salah | “ditaruh” seharusnya disambung (awalan pasif) |
| 10 | Sepeda motor diparkir di depan rumah. | Benar | “diparkir” = awalan pasif, “di depan” = kata depan |
| 11 | Kami makan di restoran itu tiga kali. | Benar | “di” = kata depan lokasi |
| 12 | Makanan di sini selalu enak. | Benar | “di sini” = frasa preposisi tempat |
| 13 | Tugas itu belum dikerjakan sampai sekarang. | Benar | “di-” = awalan pasif dari “mengerjakan” |
| 14 | Adik belajar di kamar setiap malam. | Benar | “di” = kata depan, menunjukkan tempat |
| 15 | Film itu ditonton jutaan orang. | Benar | “di-” = awalan pasif dari “menonton” |
| 16 | Harga dicantumkan di label produk. | Benar | “dicantumkan” = awalan pasif; “di label” = kata depan |
| 17 | Artikel di-publish kemarin. | Salah | Seharusnya “dipublikasikan” atau “diterbitkan” |
| 18 | Tanaman itu tumbuh di halaman belakang. | Benar | “di” = kata depan lokasi |
| 19 | Laporan keuangan diperiksa auditor eksternal. | Benar | “di-” = awalan pasif dari “memeriksa” |
| 20 | Mereka sedang di luar kota minggu ini. | Benar | “di luar” = frasa preposisi, dipisah |
| 21 | Koper itu ditinggal di bandara. | Benar | “ditinggal” = awalan pasif; “di bandara” = kata depan |
| 22 | Obat itu diminum dua kali sehari. | Benar | “di-” = awalan pasif dari “meminum” |
| 23 | Acara berlangsung di Balai Kota Surabaya. | Benar | “di” = kata depan, menunjukkan lokasi spesifik |
| 24 | Barang di titipkan ke satpam. | Salah | “dititipkan” seharusnya disambung (awalan pasif) |
| 25 | Anak itu terlihat di kejauhan. | Benar | “di” = kata depan, frasa lokasi |
| 26 | Formulir harus diisi lengkap sebelum dikumpulkan. | Benar | “diisi” dan “dikumpulkan” = awalan pasif |
| 27 | Pelatihan diadakan setiap bulan oleh HRD. | Benar | “di-” = awalan pasif dari “mengadakan” |
| 28 | Foto itu di upload ke Instagram tadi. | Salah | Seharusnya “diunggah” atau “diupload” (disambung) |
| 29 | Mobil itu diperbaiki di bengkel langganan. | Benar | “diperbaiki” = awalan pasif; “di bengkel” = kata depan |
| 30 | Semua dokumen disimpan di folder cloud. | Benar | “disimpan” = awalan pasif; “di folder” = kata depan |
Kasus Khusus yang Sering Membingungkan
“Di mana”, “Di sini”, “Di sana”, “Di situ”
Kata-kata ini sering memicu perdebatan. Jawabannya sederhana: semuanya ditulis terpisah karena “di” di sini berfungsi sebagai kata depan yang menunjukkan lokasi atau posisi.
- Kamu tinggal di mana?
- Tunggu di sini dulu, ya.
- Tokonya ada di sana, dekat pasar.
Kata Kerja Berimbuhan Kompleks
Kalau sebuah kata kerja mendapat awalan “di-” sekaligus akhiran “-kan” atau “-i”, keduanya tetap disambung menjadi satu kata.
- di + beritahu + kan = diberitahukan
- di + tangani = ditangani
- di + percaya + i = dipercayai
“Di” Sebelum Kata Sifat
Ini juga sering keliru. Kalau “di” diikuti kata sifat dan membentuk kata kerja pasif, tetap disambung.
- Disederhanakan (dari “menyederhanakan”) — bukan “di sederhanakan”
- Dipercantik (dari “mempercantik”) — bukan “di percantik”
Langkah Kecil yang Bisa Kamu Mulai Hari Ini
Untuk menguasai penggunaan kata “di” yang benar, Anda sebenarnya tidak membutuhkan waktu yang lama. Langkah utamanya adalah Anda hanya perlu membangun satu kebiasaan kecil. Setiap kali Anda merasa ragu saat mengetik, tanyakanlah dua hal pada diri sendiri: Apakah kata “di” ini menunjukkan tempat? Atau apakah kata “di” ini sedang membentuk kata kerja pasif?
Di samping itu, Anda juga dapat memanfaatkan fitur koreksi ejaan otomatis di aplikasi menulis seperti Google Docs atau Microsoft Word sebagai jaring pengaman tambahan. Namun, jangan sepenuhnya menggantungkan diri pada mesin pintar. Bagaimanapun juga, pemahaman yang Anda bangun sendiri jauh lebih andal dan akurat untuk jangka panjang.
Oleh karena itu, mari memulai perubahan ini dari tulisan-tulisan kecil terlebih dahulu, seperti saat menyusun caption foto, mengirim pesan WhatsApp formal, atau menulis email pekerjaan. Konsistensi kecil tersebut akan membentuk kebiasaan baru yang akhirnya menjadi sebuah refleks bawah sadar. Tidak lama kemudian, Anda pasti akan menulis kata “di” dengan benar tanpa perlu berpikir dua kali lagi.
Sebab, bahasa yang rapi bukan sekadar berbicara soal estetika atau keindahan visual semata. Lebih dari itu, sebuah tulisan yang mengikuti kaidah resmi menunjukkan bahwa Anda sangat menghargai pembaca dan berkomitmen serius terhadap keakuratan informasi yang Anda sampaikan.
Bahasa yang rapi bukan sekadar soal estetika — tulisan yang mengikuti kaidah memperlihatkan bahwa kamu menghargai pembaca dan serius terhadap apa yang kamu sampaikan.
Referensi: Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) / EYD Edisi V, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbudristek.