Ayah dan ibu dapat menerapkan tata cara menahan emosi pada anak dengan mengucap taawuz dan mengubah posisi tubuh saat amarah mulai memuncak. Konsep parenting menurut islam menekankan pentingnya mengambil air wudu untuk mendinginkan hati sebelum merespons perilaku negatif si Kecil. Oleh karena itu, orang tua perlu memberikan contoh kesabaran nyata agar anak meniru akhlak mulia tersebut dalam rutinitas kehidupan sehari-hari.
Mengasuh buah hati memang sering kali menguras energi fisik dan menguji batas kesabaran batin secara berkesinambungan. Anda mungkin baru saja merapikan ruang tamu, lalu melihat si Kecil menumpahkan mangkuk berisi makanan ringan ke atas karpet bersih tersebut. Akibatnya, rasa lelah spontan memicu lonjakan amarah yang membuat Anda ingin berteriak keras saat itu juga. Banyak ayah dan ibu merasa sangat menyesal dan menangis diam-diam setelah mereka membentak anak kandungnya sendiri. Kita semua sungguh membutuhkan panduan yang terarah untuk mengendalikan gejolak dada yang merusak ini.
Menyelami makna parenting menurut islam sejatinya bermula dari pemahaman utuh bahwa anak merupakan amanah titipan Sang Pencipta. Anda sama sekali tidak memiliki hak mutlak untuk menyakiti fisik maupun mental mereka berbekal dalih pendisiplinan. Sebaliknya, agama mengarahkan kita untuk mendidik generasi penerus menggunakan kelembutan tutur kata dan limpahan kasih sayang tanpa batas. Marah memang sebuah sifat naluriah yang amat manusiawi melekat pada diri setiap insan. Namun, Anda memegang kemudi penuh untuk menahan serta mengelola luapan perasaan tersebut secara bijaksana.
Menjaga Lisan dan Memperbanyak Istigfar
Langkah pertama yang paling krusial ketika kemarahan melanda adalah menahan lidah dari mengucapkan perkataan yang buruk. Tuntunan agama melarang keras umatnya melontarkan sumpah serapah atau doa keburukan kepada anak, sekencang apa pun amarah mendidih dalam dada. Ucapan orang tua menembus langit dan memiliki potensi besar menjadi kenyataan yang kelak merugikan masa depan anak itu sendiri. Oleh karena itu, Anda wajib mengganti deretan kalimat cacian dengan lantunan istigfar memohon ampunan.
Mengucapkan istigfar secara berulang kali mengirimkan sinyal ketenangan langsung menuju sistem saraf pusat Anda. Selanjutnya, Anda bisa menambahkan ucapan taawuz untuk meminta perlindungan dari godaan setan yang terus mengipasi api kemarahan. Praktik spiritual ini meredam detak jantung yang berpacu cepat menjadi ritme yang jauh lebih stabil dan menenangkan. Anda perlahan menemukan kembali kejernihan pikiran untuk menilai situasi secara objektif tanpa melibatkan sentimen ego pribadi.
Mengubah Posisi Fisik untuk Meredam Ketegangan
Terkadang, untaian doa belum cukup menenangkan otot-otot tubuh yang terlanjur menegang kaku akibat tingkat stres pengasuhan. Saat kemarahan menguasai akal sehat, anjuran nabi menyarankan kita untuk segera mengubah postur tubuh saat itu juga. Jika Anda sedang berdiri mematung melihat anak mencoret dinding, Anda sebaiknya langsung duduk merendahkan tubuh di atas lantai. Apabila posisi duduk belum juga meluluhkan amarah tersebut, Anda sangat kami sarankan untuk berbaring sejenak menatap langit-langit ruangan.
Perpindahan posisi fisik ini memberikan jeda waktu krusial bagi otak untuk memproses hormon stres secara perlahan. Selain itu, Anda memutus rantai reaksi otomatis yang biasanya berujung pada tindakan memukul atau mencubit anggota tubuh si Kecil. Tindakan merendahkan posisi tubuh secara tidak langsung menekan ego kesombongan orang dewasa yang sering merasa paling berkuasa. Akibatnya, rasa empati dan welas asih kembali mengambil alih ruang kendali utama di dalam sanubari Anda.
Kekuatan Air Wudu Mendinginkan Bara Api
Kemarahan ibarat nyala api panas yang membakar habis ketenangan batin seorang pendidik dalam hitungan detik. Setan sering kali memanfaatkannya untuk merusak mental buah hati melalui ucapan tajam yang keluar dari mulut orang tua mereka. Oleh sebab itu, membasuh anggota tubuh menggunakan air wudu menawarkan solusi spiritual yang teramat menyejukkan jiwa. Air wudu seketika menurunkan suhu permukaan kulit dan mendinginkan pikiran yang sedang kalut memikirkan kenakalan anak.
Setelah Anda menyelesaikan rangkaian basuhan wudu, Anda akan merasakan beban berat di kepala menguap perlahan menghilang membaur ke udara. Anda lalu melangkah menemui anak dengan membawa aura kedamaian yang sangat kentara terlihat dari raut wajah. Dengan demikian, Anda merespons rengekan mereka menggunakan nada suara yang jauh lebih stabil, rendah, dan bersahabat. Pendekatan lembut ini membuat anak merasa aman dan lebih siap menerima nasihat perbaikan perilaku dari ayah atau ibunya.
Mengalihkan Fokus Melalui Sarana Edukasi Positif
Menghadapi balita yang sedang rewel menuntut kreativitas tinggi dari Anda dalam mengalihkan fokus perhatian mereka. Anda pantang terus-menerus membahas kesalahan masa lalu karena tindakan itu hanya akan memperpanjang konflik dan memicu tangisan baru. Sebagai jalan keluar terbaik, Anda bisa mengajak anak duduk manis mengeksplorasi sarana edukasi yang memancing rasa penasaran indra penglihatan. Anda mengambil set mainan kartu pintar bergambar cerita nabi atau huruf hijaiah yang memiliki kombinasi warna-warni memikat mata.
Kemudian, Anda mengajak si Kecil menebak rupa gambar pada kartu tebal tersebut sambil menceritakan kisah keteladanan yang melembutkan hati. Metode bermain interaktif ini terbukti amat ampuh meruntuhkan dinding pertahanan amarah kedua belah pihak secara bersamaan. Anak belajar menyerap nilai moral agama tanpa merasa Anda sedang menceramahi mereka secara kaku dan membosankan. Anda bisa menelusuri berbagai toko perlengkapan anak daring terpercaya untuk mencari produk kartu edukasi islami berkualitas tinggi demi mendukung terciptanya lingkungan belajar yang sangat damai.
Menjaga Waktu Istirahat untuk Memulihkan Tenaga
Orang tua sering kali melupakan pentingnya merawat kondisi fisik diri sendiri karena terlalu sibuk mengurus seisi rumah. Tubuh yang kelelahan memiliki sumbu kesabaran yang sangat pendek dan sangat mudah meledak hanya karena masalah sepele. Oleh karena itu, Anda harus memenuhi hak tubuh untuk beristirahat yang cukup pada malam hari atau mencuri waktu tidur sejenak pada siang hari. Ibu yang memiliki jam tidur berkualitas niscaya mampu menghadirkan pengasuhan yang jauh lebih ceria.
Anda juga perlu menjalin kerja sama yang solid dengan pasangan untuk membagi beban pekerjaan rumah tangga secara adil. Anda menitipkan anak kepada suami selama tiga puluh menit sekadar untuk menikmati segelas teh hangat dalam keheningan. Pemulihan energi fisik ini memperkuat daya tahan mental Anda dalam menghadapi berbagai kejutan tingkah laku anak keesokan harinya. Keluarga yang menerapkan asas saling tolong-menolong selalu berhasil meredam potensi pertengkaran sejak tahap paling awal.
Mengenal emosi sejak dini
Termurah di Shopee, dapatkan di sini ya, Bun.
Kesimpulan
Memperbaiki pola asuh harian memang membutuhkan tekad yang sekuat baja dan komitmen berlatih secara berkesinambungan setiap harinya. Anda kini sungguh menyadari bahwa penerapan tata cara parenting menurut islam senantiasa memprioritaskan kelembutan budi pekerti serta pengendalian ego yang paripurna. Segala kekeliruan cara mendidik pada masa lalu biarlah menjadi pelajaran berharga yang mendewasakan cara pandang Anda menyongsong hari esok. Anda memegang kunci utama untuk memutus mata rantai kemarahan demi mencetak generasi penerus yang berakhlak mulia dan bermental baja.
Oleh karena itu, mulailah melakukan satu perubahan sikap yang sangat sederhana mulai sore hari ini. Saat Anda melihat tingkah laku anak mulai memancing rasa kesal, segera rentangkan kedua telapak tangan Anda lebar-lebar ke depan dada. Anda menarik tubuh mungil mereka ke dalam pelukan yang teramat erat sambil membisikkan doa kebaikan tepat menyapu telinga mereka. Mari wujudkan suasana rumah yang senantiasa menenangkan jiwa berbekal limpahan cinta kasih tak bersyarat bagi buah hati tercinta.
Referensi Bacaan Tambahan
Ulwan, A. N. (2015). Pendidikan Anak dalam Islam. Jakarta: Pustaka Amani.
Al-Ghazali, A. H. (2011). Ihya Ulumuddin. Jakarta: Republika Penerbit.
Suwaid, M. N. (2010). Prophetic Parenting: Cara Nabi Mendidik Anak. Yogyakarta: Pro-U Media.
Fauziah, N. (2019). Konsep Pengendalian Emosi Orang Tua Menurut Perspektif Psikologi Islam. Jurnal Psikologi Universitas Islam Negeri.