Menatap Sisi Gelap Jakarta Lewat Re: dan peREmpuan (Bacaan Dewasa 18+)

Oleh Redaksi Pinggir • 27 Februari 2026

Ulasan buku Re: dan peREmpuan karya Maman Suherman mengungkap realitas pahit dunia prostitusi Jakarta melalui kisah nyata seorang pelacur lesbian bernama Re yang berjuang menghidupi anaknya. Narasi ini membedah kemunafikan sosial, kekerasan sistemik, dan sisi kemanusiaan yang sering kali terlupakan oleh masyarakat umum. Melalui dwilogi ini, pembaca akan memahami betapa kerasnya hidup di titik nadir sekaligus melihat kekuatan cinta seorang ibu yang melampaui segala stigma negatif.

Kehidupan Malam Jakarta

Kalau kamu mengira kehidupan malam di Jakarta cuma sebatas kerlip lampu diskotik atau nongkrong cantik di Senopati, kamu perlu membaca dwilogi ini untuk menyeimbangkan perspektif. Maman Suherman, atau yang akrab kita sapa Kang Maman, tidak menyuguhkan dongeng sebelum tidur yang indah. Sebaliknya, ia menyajikan laporan pandangan mata yang sangat mencekam mengenai dunia yang selama ini kita anggap kotor dan layak kita lupakan.

Membaca buku ini rasanya seperti sedang naik ojek menembus gang-gang sempit Jakarta yang pengap, lalu tiba-tiba kamu melihat pemandangan yang membuat jantungmu berhenti berdetak. Penulis tidak menggunakan bahasa yang berbunga-bunga untuk menutupi kebusukan realitas. Akibatnya, setiap kalimat terasa seperti hantaman kenyataan yang membuat kita tersadar bahwa di balik gedung pencakar langit, ada manusia-manusia yang sedang bertaruh nyawa demi sepiring nasi.

Menelusuri Jejak Re: Pelacur, Ibu, dan Manusia

Pusat gravitasi dari seluruh narasi ini adalah sosok Re. Ia bukan sekadar karakter fiksi karena Kang Maman menuliskan kisah ini berdasarkan pengalaman nyatanya saat melakukan riset skripsi di tahun 80-an. Re menjalani kehidupan sebagai pelacur kelas atas, namun ia memiliki rahasia yang membuatnya semakin terpinggirkan: ia seorang lesbian. Penulis membawa kita menyelami konflik batin Re yang harus melayani laki-laki hidung belang demi mengumpulkan uang bagi masa depan putrinya, Melur.

Konsep utama dalam Re: dan peREmpuan sebenarnya sangat sederhana namun mematikan, yaitu tentang pilihan hidup yang tidak pernah ada. Kita sering kali dengan mudah menghakimi orang lain tanpa tahu bahwa mereka sedang berdiri di ujung jurang. Re tidak memilih untuk menjadi pelacur; sistem dan kemalanganlah yang menyeretnya ke sana. Oleh karena itu, buku ini menantang moralitas kita sebagai pembaca: apakah kita masih berani melempar batu pertama setelah mengetahui penderitaannya?

Kemunafikan yang Terangkum dalam peREmpuan

Jika buku pertama berfokus pada sosok Re, maka buku kedua yang berjudul peREmpuan memperluas cakrawala kita pada dampak jangka panjang dari kehidupan tersebut. Kang Maman menyoroti bagaimana masyarakat kita memperlakukan anak-anak yang lahir dari rahim yang mereka cap “haram”. Melur, putri Re, harus memikul beban sejarah ibunya yang sangat berat. Di sini, kita melihat betapa jahatnya stigma sosial yang bisa membunuh karakter seseorang lebih cepat daripada peluru.

Selain itu, buku kedua ini juga menyentil para “pelanggan” yang secara sosial memiliki status terhormat. Mereka adalah pejabat, pengusaha, atau tokoh masyarakat yang rajin bicara moral di depan kamera, namun menjadi monster saat berada di balik pintu tertutup. Penulis menguliti kemunafikan ini dengan sangat tajam. Akibatnya, pembaca akan merasa muak sekaligus sedih melihat betapa tidak adilnya dunia memperlakukan perempuan seperti Re dan keturunannya.

Gaya Penulisan yang Lugas dan Tanpa Sensor

Kang Maman menggunakan gaya penulisan yang sangat “jurnalis”. Ia tidak mencoba berfilsafat terlalu jauh; ia hanya menceritakan apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan. Kalimat-kalimatnya pendek namun memiliki daya ledak yang besar. Selain itu, ia sering kali menyertakan fakta-fakta lapangan yang membuat cerita ini terasa lebih seperti dokumen sejarah daripada sekadar novel hiburan.

Variasi antara narasi pribadi Kang Maman sebagai pengamat dan dialog-dialog kasar para tokoh menciptakan ritme yang dinamis. Kamu tidak akan menemukan sensor yang berlebihan di sini. Kalau dunianya memang kotor, maka kata-kata yang keluar pun akan terasa kotor. Akan tetapi, justru kejujuran tekstual inilah yang membuat buku ini sangat kuat dan membekas di ingatan pembaca dalam waktu yang lama.

Mengapa Anak Muda Harus Membaca Dwilogi Ini?

Mungkin kamu bertanya, mengapa generasi Z atau Milenial harus peduli pada kisah pelacur dari era 80-an? Jawabannya sederhana: karena polanya masih sama sampai sekarang. Kita masih hidup di tengah masyarakat yang gemar menghakimi tanpa solusi. Isu mengenai kekerasan terhadap perempuan, hak-hak anak, hingga perlindungan kelompok marjinal masih menjadi PR besar di Indonesia tahun 2026 ini.

Membaca Re: dan peREmpuan akan melatih otot empati kamu. Di era media sosial yang penuh dengan kepalsuan kurasi hidup yang indah, buku ini mengajak kita kembali ke tanah. Ia mengingatkan kita bahwa ada realitas lain di luar sana yang membutuhkan perhatian dan pembelaan kita. Selain itu, bagi kamu yang bercita-cita menjadi penulis atau jurnalis, buku ini adalah contoh sempurna tentang bagaimana sebuah riset serius bisa berubah menjadi karya sastra yang menggugah jiwa.

Menemukan Cahaya di Tengah Kegelapan

Meskipun temanya sangat kelam, Kang Maman tetap menyisipkan secercah harapan melalui hubungan antara penulis dan subjeknya. Kita melihat betapa sebuah kepedulian kecil bisa memberikan arti besar bagi orang yang sudah putus asa. Pertemanan antara “si mahasiswa riset” dan Re menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak mengenal kasta atau profesi.

Oleh karena itu, dwilogi ini bukan hanya tentang keputusasaan. Ia adalah tentang ketangguhan seorang ibu yang rela menghancurkan dirinya sendiri asalkan anaknya bisa melihat cahaya matahari yang lebih terang. Pengorbanan Re adalah salah satu bentuk cinta yang paling murni sekaligus paling menyakitkan dalam khazanah sastra Indonesia modern. Kamu akan belajar bahwa sering kali, orang-orang yang kita anggap “paling berdosa” justru memiliki hati yang jauh lebih tulus daripada mereka yang merasa paling suci.

Sebuah Perjalanan Menuju Kesadaran

Menutup ulasan Re: dan peREmpuan ini, saya ingin menegaskan bahwa buku ini bukan bacaan bagi mereka yang berhati lemah atau mereka yang mencari pelarian dari kenyataan. Buku ini adalah kenyataan itu sendiri. Ia akan membuatmu marah, sedih, dan mungkin sedikit trauma, namun ia juga akan membuatmu menjadi manusia yang lebih bijak dalam memandang hidup.

Langkah kecil yang bisa kamu lakukan sekarang adalah mulai membuka pikiran terhadap isu-isu marginal di sekitarmu. Jangan biarkan dirimu menjadi bagian dari massa yang hanya bisa mencaci tanpa tahu duduk perkara yang sebenarnya. Selain itu, segeralah dapatkan dwilogi ini di toko buku terdekat atau pesan melalui platform daring favoritmu untuk mendukung literasi lokal yang berani menyuarakan kebenaran.

Setelah menamatkan kisah Re dan Melur, kira-kira standar moral seperti apa yang akan kamu gunakan untuk menilai dunia yang tidak adil ini?

Harga Rp85.000 (normal Rp100.000)

Dapatkan di sini ya, Bun.

Sinopsis:

“Panggil aku: Re!”

“Pekerjaanku pelacur!”

“Lebih tepatnya, pelacur lesbian!”

Pertemuan dengan Re: si pelacur lesbian, mengubah jalan hidup Herman.Semula, mahasiswa Kriminologi itu menganggap Re: sekadar objek penelitian skripsinya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Kisah hidup Re: yang berliku menyeret Herman hingga jauh ke dalam. Herman terpaksa terlibat dalam sisi tergelap dunia pelacuran yang bersimbah darah, dendam, dan air mata. Dua puluh enam tahun setelah kematian Re:, Melur kembali ke tanah air dengan gelar PhD tersandang di belakang namanya.

Sejumlah tanya ia bawa pulang: Siapa sebenarnya ibu kandungnya? Betulkah ibunya diperjualbelikan, dipaksa menjadi pelacur lesbian? Apa penyebab kematian ibunya yang teramat tragis itu? Herman menyambut kedatangan Melur dengan risau. Haruskah rahasia yang ia pendam lebih dari seperempat abad itu diungkap? Tidakkah hal itu akan memicu Melur untuk membalas dendam? Mengapa buku kehidupan perempuan harus sarat seloka luka?

Judul: Re: dan Perempuan

Penulis: Maman Suherman

Tebal: 336 Halaman

← Kembali ke Blog