7 Tahapan Menulis pada Anak Usia Dini: Orang Tua Wajib Tahu

Oleh Redaksi Pinggir • 20 Februari 2026
7 Tahapan Menulis pada Anak Usia Dini: Orang Tua Wajib Tahu

Orang tua perlu memahami bahwa kemampuan literasi anak berkembang melalui 7 tahapan menulis yang sistematis, mulai dari fase mencoret acak (scribbling) hingga mencapai penulisan konvensional yang sesuai kaidah bahasa. Fase-fase ini meliputi coretan awal, coretan terarah, pembentukan menyerupai huruf, deretan huruf acak, ejaan kreatif atau fonetik, ejaan transisi, dan akhirnya kemampuan menulis standar. Memahami setiap langkah dalam 7 tahapan menulis ini akan membantu Ayah dan Bunda memberikan stimulasi yang tepat tanpa memaksakan kehendak pada si Kecil sebelum waktunya.

Menulis Itu Proses

Banyak orang tua sering merasa khawatir ketika melihat buah hatinya yang berusia empat tahun hanya bisa membuat garis benang kusut di atas kertas. Kita kerap membandingkan kemampuan mereka dengan anak tetangga yang mungkin sudah lancar menulis nama sendiri. Padahal, menulis bukanlah keterampilan instan yang muncul dalam semalam. Aktivitas kompleks ini melibatkan kematangan saraf motorik halus, koordinasi mata-tangan, dan pemahaman kognitif yang berkembang secara bertahap.

Anak-anak tidak langsung melompat dari memegang krayon ke menulis esai. Mereka harus menapaki tangga perkembangan yang para ahli literasi sebut sebagai tahapan perkembangan menulis. Memaksa anak melompati anak tangga ini justru berisiko mematikan minat belajar mereka. Sebaliknya, mengenali posisi anak di tangga tersebut memungkinkan Anda memberikan dukungan yang relevan.

Artikel ini akan mengupas tuntas perjalanan panjang tersebut. Kita akan membedah satu per satu fase yang akan anak lalui. Pengetahuan ini akan mengubah cara pandang Anda terhadap coretan dinding atau tulisan “typo” si Kecil. Mari kita simak penjelasannya agar Anda dapat mendampingi mereka dengan lebih bijak.

1. Tahap Coretan Acak (Random Scribbling)

Perjalanan panjang seorang penulis cilik bermula dari goresan yang tampak berantakan. Tahap pertama ini biasanya terjadi pada anak usia 2 hingga 3 tahun. Orang tua sering menganggap fase ini hanya sebagai kegiatan mengotori kertas, padahal anak sedang melakukan eksperimen sensori yang penting.

Anak memegang alat tulis dengan kepalan tangan penuh (fisted grasp). Mereka menggerakkan lengan dari bahu, bukan dari pergelangan tangan. Akibatnya, coretan yang muncul terlihat acak, tidak beraturan, dan sering kali keluar dari batas kertas.

Fokus utama anak pada tahap ini adalah kenikmatan motorik. Mereka menyadari bahwa gerakan tangan mereka menghasilkan jejak permanen. Anda sebaiknya menyediakan kertas besar dan krayon jumbo (besar) untuk memfasilitasi eksplorasi ini. Jangan menuntut bentuk apapun, biarkan mereka menikmati sensasi menggores tersebut.

2. Tahap Coretan Terarah (Controlled Scribbling)

Seiring berjalannya waktu, kontrol motorik anak semakin membaik. Memasuki usia 3 tahun, anak mulai menunjukkan tanda-tanda coretan yang lebih terorganisir. Fase ini menandai transisi penting di mana anak mulai memahami hubungan antara gerakan tangan dan hasil visual.

Anda akan melihat anak membuat pola garis lurus mendatar, garis tegak, atau lingkaran yang berulang-ulang. Hal menarik lainnya, anak mulai meniru arah penulisan orang dewasa. Di Indonesia, kita menulis dari kiri ke kanan. Anak pun akan mencoba menarik garis panjang dari sisi kiri kertas menuju sisi kanan, menyerupai barisan kalimat dalam buku.

Meskipun belum ada huruf yang terbaca, anak sering kali berpura-pura “membaca” coretan tersebut. Mereka mungkin menunjuk garis gelombang itu sambil berkata, “Ini Ibu pergi ke pasar.” Hargailah imajinasi mereka karena hal ini menunjukkan pemahaman bahwa tulisan membawa makna.

3. Tahap Bentuk Menyerupai Huruf (Letter-Like Forms)

Memasuki tahap ketiga, anak mulai menyadari bahwa tulisan terdiri dari bentuk-bentuk khusus yang berbeda dengan gambar. Mereka mulai meninggalkan garis cacing dan mencoba meniru bentuk huruf yang sering mereka lihat, meskipun hasilnya belum sempurna.

Anak akan menghasilkan simbol-simbol unik. Anda mungkin melihat bentuk seperti huruf ‘L’ terbalik, lingkaran yang menyerupai ‘O’, atau garis silang seperti ‘X’. Bentuk-bentuk ini belum menjadi huruf standar, namun sudah memiliki karakteristik huruf. Peneliti menyebut fase ini sebagai penciptaan simbol.

Pada titik ini, anak sering bertanya, “Ini bacanya apa, Bunda?” ketika mereka menyodorkan kertas berisi simbol-simbol aneh tersebut. Pertanyaan itu menandakan rasa ingin tahu yang besar tentang fungsi simbol. Anda bisa menjawabnya dengan menanyakan kembali apa maksud mereka, lalu memberikan apresiasi atas usaha kreatif tersebut.

4. Tahap Deretan Huruf Acak (Random Letters)

Lompatan besar terjadi pada tahap keempat. Anak mulai mengenal nama-nama huruf, biasanya bermula dari huruf yang menyusun nama panggilan mereka sendiri. Jika nama anak adalah “BUDI”, maka huruf B, U, D, dan I akan menjadi huruf favorit yang muncul di mana-mana.

Karakteristik utama fase ini adalah munculnya deretan huruf asli namun dengan susunan yang acak. Anak mungkin menulis “BDUI” untuk menyebut “BOLA”, atau menulis rangkaian panjang tanpa spasi seperti “XYZAOOP”. Mereka belum memahami hubungan antara bunyi huruf dan kata.

Bagi mereka, menulis adalah kegiatan menyusun huruf-huruf yang mereka hafal. Panjang tulisan sering kali tidak sesuai dengan panjang pesan lisan. Misalnya, anak menulis tiga huruf tetapi membacanya sebagai kalimat panjang: “Aku sayang Ayah dan Ibu selamanya.” Ini adalah bagian normal dari proses 7 tahapan menulis yang perlu Anda rayakan.

5. Tahap Ejaan Kreatif atau Fonetik (Invented Spelling)

Tahap kelima adalah momen “aha!” bagi anak. Mereka mulai memahami logika bahwa huruf mewakili bunyi suara (phonetic awareness). Anak mulai menggunakan logika bunyi untuk menulis kata, meskipun ejaannya sering kali menyimpang dari ejaan baku bahasa Indonesia.

Anak akan menulis kata berdasarkan bunyi yang paling dominan telinga mereka tangkap.

  • Contoh 1: Menulis “BJU” untuk kata “BAJU”.

  • Contoh 2: Menulis “SKLA” untuk kata “SEKOLAH”.

  • Contoh 3: Menulis “MKN” untuk kata “MAKAN”.

Mereka cenderung menghilangkan huruf vokal atau huruf yang bunyinya samar. Orang tua sering merasa gatal ingin segera memperbaiki ejaan ini dengan pena merah. Tahan keinginan tersebut! Ejaan kreatif adalah tanda kecerdasan. Anak sedang menganalisis bunyi dan mencari simbol yang tepat. Mengkritik mereka saat ini justru akan mematahkan semangat analisis mereka. Sebaliknya, pujilah kemampuan mereka mendengar bunyi huruf tersebut.

6. Tahap Ejaan Transisi (Transitional Spelling)

Anak semakin matang dalam memahami struktur kata pada tahap keenam. Mereka mulai menyadari bahwa bunyi saja tidak cukup untuk menulis dengan benar. Paparan buku cerita dan tulisan di lingkungan membuat memori visual mereka merekam bentuk kata yang baku.

Anak mulai menyisipkan huruf vokal pada setiap suku kata. Tulisan “MKN” mulai berubah menjadi “MAKAN”. Mereka juga mulai menggunakan spasi untuk memisahkan antar kata, meskipun terkadang jaraknya masih tidak konsisten.

Pada fase ini, anak mungkin masih melakukan kesalahan pada kata-kata yang kompleks atau kata serapan. Namun, tingkat keterbacaan tulisan mereka sudah sangat tinggi. Orang lain selain orang tua (seperti guru atau paman) sudah bisa membaca pesan anak tanpa perlu banyak menebak. Anda bisa mulai mengenalkan tanda baca sederhana seperti titik di akhir kalimat pada tahap transisi ini.

7. Tahap Menulis Konvensional (Conventional Writing)

Puncak dari seluruh proses ini adalah tahap menulis konvensional. Anak sudah memahami aturan dasar ejaan bahasa Indonesia yang berlaku umum (Ejaan Yang Disempurnakan). Mereka mampu menulis kalimat lengkap dengan struktur Subjek-Predikat-Objek yang jelas.

Anak menggunakan huruf kapital di awal kalimat dan nama orang dengan tepat. Tanda baca seperti titik, koma, dan tanda tanya mulai mereka gunakan sesuai fungsinya. Tulisan mereka tidak hanya benar secara ejaan, tetapi juga memiliki makna yang runtut.

Meskipun demikian, proses belajar tidak berhenti di sini. Anak akan terus memperkaya kosakata dan gaya bahasa mereka seiring bertambahnya usia. Namun secara teknis, mereka telah lulus dari fase “belajar menulis” dan beralih ke fase “menulis untuk belajar” (menggunakan tulisan untuk mempelajari hal lain).

Peran Orang Tua dalam Mendampingi Proses

Mengetahui ketujuh tahapan di atas memberikan peta jalan bagi Anda. Tugas utama orang tua bukanlah menarik anak agar cepat sampai ke tujuan, melainkan menemani mereka menikmati pemandangan di setiap pos pemberhentian.

Sediakan Lingkungan Kaya Literasi

Anda perlu meletakkan alat tulis, kertas, dan buku di tempat yang mudah anak jangkau. Biarkan mereka berinisiatif mengambil pensil kapan pun ide muncul. Tempelkan label nama pada benda-benda di rumah (seperti “PINTU”, “MEJA”, “LEMARI”) untuk memperkaya memori visual mereka tentang bentuk kata.

Jadilah Teladan Menulis

Anak meniru apa yang mereka lihat. Jika Anda ingin anak gemar menulis, tunjukkanlah bahwa Anda juga melakukannya. Kurangi mencatat di ponsel saat bersama anak. Ambillah buku catatan fisik saat membuat daftar belanjaan atau agenda harian. Biarkan anak melihat tangan Anda bergerak menulis.

Fokus pada Pesan, Bukan Ejaan

Saat anak menunjukkan tulisan “AK SYNG IBU”, responlah isinya terlebih dahulu. Katakan, “Wah, Ibu juga sayang Adik. Terima kasih suratnya manis sekali.” Validasi emosional ini membuat anak merasa tulisannya berharga. Setelah anak merasa aman, barulah Anda bisa memberikan contoh ejaan yang benar di lain waktu tanpa nada menyalahkan.

Kesimpulan

Perjalanan menguasai literasi adalah proses maraton, bukan lari cepat. Setiap anak memiliki kecepatan melangkah yang unik dalam menapaki 7 tahapan menulis ini. Ada anak yang betah berlama-lama di tahap coretan, ada pula yang melesat cepat ke tahap fonetik. Semua itu wajar dan normal.

Memaksakan anak usia 4 tahun untuk menulis dengan ejaan sempurna sama halnya dengan memaksa kuncup bunga mekar sebelum waktunya. Hasilnya mungkin terlihat instan, namun rapuh dan tidak bertahan lama.

Sebaliknya, dukungan yang sesuai dengan tahapan perkembangan akan menghasilkan fondasi yang kokoh. Anak tidak hanya mampu menulis dengan benar, tetapi juga mencintai kegiatan menulis sebagai sarana mengekspresikan diri. Nikmatilah setiap coretan cacing dan huruf terbalik yang mereka buat hari ini, karena itu adalah jejak sejarah menuju kecerdasan mereka di masa depan.


Referensi

  • Gentry, J. R. (1982). An Analysis of Developmental Spelling in GNYS AT WRK. The Reading Teacher, 36(2), 192-200.

  • Morrow, L. M. (2012). Literacy Development in the Early Years: Helping Children Read and Write (7th ed.). Boston: Pearson.

  • Brewer, J. A. (2007). Introduction to Early Childhood Education: Preschool through Primary Grades (6th ed.). New York: Pearson Allyn and Bacon.

  • Dhieni, N., dkk. (2014). Metode Pengembangan Bahasa. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

  • Seefeldt, C., & Wasik, B. A. (2008). Early Education: Three-, Four-, and Five-Year-Olds Go to School. Upper Saddle River, NJ: Pearson Merrill Prentice Hall.

← Kembali ke Blog