4 Alasan Ronggeng Dukuh Paruk Tetap Menggema di Hati Pembaca Indonesia Hari Ini

Oleh Redaksi Pinggir • 13 Februari 2026
ahmad tohari ronggeng dukuh paruk

“Dukuh Paruk. Inilah tempatnya. Di sini, kemiskinan dan kelaparan adalah teman sehari-hari. Namun di sini pula, tawa dan dendang ronggeng mampu menghapus segala duka lara, seolah-olah hidup adalah pesta yang tak pernah usai.”

“Apa yang kau cari, Srintil? Kemuliaan sebagai ronggeng hanyalah fatamorgana. Kau memberikan tubuhmu untuk dinikmati mata-mata lapar, namun hatimu akan selamanya sepi.”

Ada kalanya sebuah buku melampaui statusnya sebagai sekadar karya sastra. Ia bertransformasi menjadi monumen ingatan, penjaga identitas budaya, dan cermin retak yang memantulkan wajah bangsa. Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari adalah salah satu dari sedikit buku tersebut.

Pertama kali terbit sebagai cerita bersambung di harian Kompas dan kemudian terbit versi buku pada tahun 1982, novel ini telah menjadi salah satu pilar sastra Indonesia modern. Ahmad Tohari tidak sekadar menulis cerita; ia menenun sebuah semesta kecil bernama Dukuh Paruk yang kaya akan nuansa budaya Banyumasan, mistisme, keluguan, sekaligus tragedi kemanusiaan yang universal.

Saat saya membacanya kembali setelah bertahun-tahun, saya menyadari sebuah fakta mengejutkan: apa yang tersampaikan oleh Ahmad Tohari tidak pernah pudar. Justru di tengah hiruk-pikuk Indonesia modern yang semakin berjarak dari akar tradisinya, kisah Srintil dan Rasus terasa semakin relevan, menyentuh, dan penting untuk direnungkan.

Mengapa Ronggeng Dukuh Paruk Layak Jadi Buku Wajib Baca Setiap Generasi

Sebelum kita menyelami detail cerita dan refleksi pribadi, mari kita bahas mengapa novel ini layak—bahkan wajib—dibaca oleh setiap orang Indonesia, dari Gen Z hingga Baby Boomers.

Pertama, novel ini adalah masterclass dalam penggunaan bahasa. Tohari berhasil memadukan bahasa Indonesia yang liris dengan dialek dan idiom Jawa Banyumasan yang khas. Ia tidak hanya bercerita, tetapi melukis dengan kata-kata. Anda bisa mencium aroma tanah kering Dukuh Paruk, mendengar desau angin di pohon dadap, dan merasakan getaran gamelan calung hanya dari membaca deskripsinya.

Kedua, ia memotret realitas rakyat kecil (wong cilik) dengan kejujuran yang brutal namun penuh empati. Tohari tidak mendramatisasi kemiskinan menjadi tontonan, melainkan menampilkannya sebagai latar kehidupan yang wajar bagi tokoh-tokohnya. Ia merekam kepolosan orang desa yang sering kali menjadi korban dari pergolakan sejarah yang tidak mereka pahami—sebuah tema yang sangat penting untuk memahami sejarah kelam bangsa ini di tahun 1965.

Ketiga, isu yang diangkat sangat progresif. Meskipun berlatar desa terpencil di tahun 60-an, novel ini berbicara lantang tentang objektifikasi perempuan, eksploitasi tubuh atas nama tradisi, dan hierarki sosial yang menindas. Ini adalah isu-isu yang masih sangat relevan dengan diskusi gender dan keadilan sosial di Indonesia hari ini.

Bagi generasi muda yang hidup di era digital, Ronggeng Dukuh Paruk adalah jembatan waktu. Ia mengajak kita pulang ke akar, merenungkan identitas keindonesiaan kita, dan mempertanyakan ulang nilai-nilai kemanusiaan yang mungkin mulai tergerus zaman.

Tentang Srintil, Rasus, dan Kutukan Dukuh Paruk

Novel ini berpusat pada kehidupan di Dukuh Paruk, sebuah pedukuhan kecil, miskin, dan terpencil yang memiliki tradisi unik: mereka memuja Ki Secamenggala, leluhur yang mereka anggap memberi kehidupan. Bagi orang Dukuh Paruk, hidup tanpa seorang ronggeng adalah hidup yang hampa, sepi, dan tanpa gairah.

Lahirnya Sang Primadona

Cerita bermula ketika Srintil, seorang gadis kecil yatim piatu yang diasuh kakek-neneknya, secara tidak sadar menari dengan gerakan yang memukau saat bermain. Rasus, teman sepermainannya, melihat bakat alamiah itu. Bakat Srintil segera diketahui oleh tetua dukuh, dan seketika itu juga, takdir Srintil disegel: ia adalah titisan ronggeng yang telah lama dinanti-nanti.

Bagi Srintil muda, menjadi ronggeng adalah impian. Ia melihatnya sebagai jalan untuk mendapatkan kemuliaan, dipuja orang banyak, dan keluar dari kemiskinan. Namun, ia tidak menyadari harga mahal yang harus dibayar. Untuk menjadi ronggeng sejati, ia harus melewati serangkaian ritual, termasuk ritual bukak-klambu—sebuah tradisi menyerahkan keperawanan kepada lelaki yang mampu membayar harga tertinggi.

Konflik Batin Rasus

Di sisi lain, ada Rasus. Pemuda ini mencintai Srintil dengan tulus, namun ia membenci budaya Dukuh Paruk yang “mencuri” Srintil darinya. Rasus melihat bagaimana Srintil perlahan berubah dari gadis lugu menjadi milik publik, menjadi objek nafsu para lelaki. Kecewa dan patah hati, Rasus memilih meninggalkan Dukuh Paruk dan menjadi tentara (tobang).

Pilihan Rasus membawanya melihat dunia luar. Ia mulai menyadari betapa terbelakang dan bodohnya orang-orang di kampung halamannya. Namun, semakin jauh ia pergi, semakin kuat pula tarikan Dukuh Paruk memanggilnya pulang.

“Manusia bisa merencanakan, tapi sejarah punya jalannya sendiri. Dan seringkali, roda sejarah melindas mereka yang kecil dan tak tahu apa-apa.”

Tragedi 1965

Puncak novel ini terjadi berlatar peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Ketidaktahuan dan kepolosan orang-orang Dukuh Paruk dimanfaatkan oleh oknum politik. Srintil dan rombongan ronggengnya sering menari di acara-acara partai tanpa mereka paham konteks politiknya. Ketika badai politik meletus, Dukuh Paruk hancur. Srintil ditahan, dipermalukan, dan jiwanya remuk.

Bagian ini adalah salah satu potret paling memilukan dalam sastra Indonesia tentang bagaimana rakyat kecil yang buta politik menjadi korban paling menderita dari konflik elit kekuasaan. Srintil, yang dulunya mendapat puja-puji bak dewi, berakhir menjadi perempuan yang hancur, menanti penebusan yang tak kunjung datang.

Bukan Cerita Masa Lalu, Tapi Cerita Tentang Indonesia Hari Ini

Membaca Ronggeng Dukuh Paruk di tahun ini memberikan perspektif baru. Isu-isu yang diangkat Tohari ternyata masih “hidup” di sekitar kita, hanya saja berganti wujud.

1. Objektifikasi Perempuan dan Budaya Patriarki

Nasib Srintil adalah representasi ekstrem dari objektifikasi perempuan. Tubuhnya dianggap sebagai aset publik/desa, bukan miliknya sendiri. Keperawanannya terbuang dalam lelang (bukak-klambu) demi gengsi dukuh.

Hari ini, apakah kita sudah sepenuhnya lepas dari ini? Lihatlah media sosial dan industri hiburan kita. Perempuan masih sering dinilai dari penampilan fisiknya, menjadi “pemanis”, atau tereksploitasi sensualitasnya demi rating dan engagement. Kisah Srintil adalah peringatan keras bahwa perjuangan untuk memanusiakan perempuan dan memberikan mereka otonomi atas tubuhnya sendiri masih jauh dari selesai.

2. Ketimpangan Sosial dan Eksploitasi Si Miskin

Dukuh Paruk adalah potret kemiskinan struktural. Mereka bodoh karena tidak ada akses pendidikan, mereka percaya takhayul karena tidak ada akses kesehatan. Kondisi ini membuat mereka mudah dimanipulasi—baik oleh tetua adat maupun oleh orang politik.

Relevansi hari ini sangat jelas. Kita masih melihat bagaimana masyarakat kelas bawah sering kali dijadikan komoditas politik lima tahunan. Mereka didekati saat butuh suara, lalu ditinggalkan (atau bahkan digusur) setelah kekuasaan didapat. Nasib Dukuh Paruk mengingatkan kita pentingnya pendidikan dan pemberdayaan ekonomi agar rakyat kecil tidak terus menjadi “korban sejarah”.

3. Benturan Tradisi vs Modernitas

Rasus mewakili modernitas dan rasionalitas, sementara Srintil mewakili tradisi dan mistisme. Konflik batin Rasus adalah konflik batin manusia Indonesia modern. Kita sering malu dengan aspek “ndeso” atau “klenik” dari budaya kita, namun di saat yang sama kita merindukan kehangatan komunal yang ditawarkannya.

Novel ini tidak menyuruh kita memilih satu dan membuang yang lain. Ia justru menunjukkan bahwa modernitas tanpa akar budaya akan kering (seperti Rasus yang kesepian di kota), namun tradisi tanpa adaptasi nilai kemanusiaan akan menindas (seperti nasib tragis Srintil). Kita perlu mencari jalan tengah: melestarikan budaya sembari membuang praktik-praktik yang tidak manusiawi.

4. Bahaya Fanatisme dan Ketidaktahuan

Tragedi 1965 dalam novel ini mengajarkan betapa berbahayanya ketidaktahuan. Warga Dukuh Paruk hancur bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka naif. Di era informasi digital saat ini, di mana hoaks dan provokasi menyebar cepat, pesan ini sangat krusial. Kita harus menjadi masyarakat yang literer, kritis, dan tidak mudah ditunggangi kepentingan pihak lain, agar tragedi kemanusiaan tidak terulang.

Luka dan Harapan dalam Tarian Srintil

Membaca ulang Ronggeng Dukuh Paruk meninggalkan rasa sesak yang aneh di dada saya. Ada kesedihan melihat kepolosan Srintil direnggut paksa—pertama oleh tradisi, kedua oleh politik. Srintil adalah korban yang sempurna. Ia tidak pernah punya pilihan. Bahkan ketika ia merasa memilih (ingin jadi ronggeng), itu pun sebenarnya adalah konstruksi sosial masyarakatnya.

Namun, di balik tragedi itu, saya melihat kekuatan yang luar biasa. Srintil, dengan segala kehancurannya, adalah sosok yang tangguh. Ia menari bukan hanya untuk uang, tapi untuk menghibur jiwa-jiwa yang lelah. Seperti kata nenek saya dulu, “Seni itu tombo ati (obat hati).” Srintil adalah tabib bagi masyarakatnya, meski ia sendiri sakit parah.

Tokoh Rasus juga memberikan refleksi menarik. Ia adalah kita semua—orang-orang yang pergi merantau, menjadi “pintar”, dan terkadang memandang rendah kampung halaman. Namun pada akhirnya, Rasus sadar bahwa ia tidak bisa sepenuhnya membuang Dukuh Paruk dari darahnya. Ia kembali, bukan untuk menghakimi, tapi untuk memahami dan berdamai.

Novel ini mengajarkan saya untuk tidak melihat hitam-putih. Tradisi tidak sepenuhnya buruk, dan kemajuan tidak sepenuhnya baik. Hidup adalah tentang tawar-menawar yang menyakitkan di antara keduanya.

Warisan yang Harus Terus Dibaca

Ronggeng Dukuh Paruk adalah sebuah masterpiece. Ahmad Tohari berhasil menangkap jiwa Jawa—dan jiwa Indonesia—dalam bentuknya yang paling telanjang. Ia tidak menghakimi; ia hanya memaparkan. Dan justru karena itulah, dampaknya begitu kuat.

Novel ini menuntut kita untuk berempati. Berempati pada mereka yang terpinggirkan, pada perempuan yang menjadi korban budaya, pada rakyat kecil yang menjadi korban politik.

Bagi pembaca Indonesia hari ini, buku ini adalah cermin yang jernih. Ia memaksa kita bertanya:

  • Sudahkah kita memperlakukan perempuan dengan adil?

  • Sudahkah kita peduli pada “Dukuh Paruk-Dukuh Paruk” lain di pelosok negeri yang masih tertinggal?

  • Sudahkah kita berdamai dengan sejarah masa lalu bangsa kita?

Jika Anda belum pernah membacanya, atau sudah lama sekali membacanya, saya sangat menyarankan Anda untuk mengambil buku ini lagi. Baca perlahan. Resapi bahasanya. Biarkan kisah Srintil menari di imajinasi Anda. Karena di sana, di Dukuh Paruk yang gersang itu, tersimpan mata air kearifan yang tak akan pernah kering.

Ronggeng Dukuh Paruk bukan hanya cerita tentang masa lalu. Ia adalah cerita tentang kita, hari ini.

ahmad tohari ronggeng dukuh paruk

Harga Rp139.000 jadi Rp115.350

Dapatkan bukunya di sini ya, bun...

Sinoppsis:

Semangat Dukuh Paruk kembali menggeliat sejak Srintil menjadi ronggeng baru, menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu. Bagi pedukuhan yang kecil, miskin, terpencil, dan bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang. Tanpanya, dukuh itu merasa kehilangan jati diri. Dengan segera Srintil menjadi tokoh yang amat terkenal dan banyak orang gandrung kepadanya. Cantik dan menggoda. Semua ingin pernah bersama ronggeng itu. Dari kaula biasa hingga pejabat-pejabat desa maupun kabupaten.

Namun malapetaka politik tahun 1965 membuat dukuh tersebut hancur, baik secara fisik maupun mental. Karena kebodohannya, mereka terbawa arus dan divonis sebagai manusia-manusia yang telah mengguncangkan negara ini. Pedukuhan itu terbakar. Ronggeng beserta para penabuh calungnya masuk penjara.

Hanya karena kecantikannyalah Srintil tidak mendapat perlakuan semena-mena oleh para penguasa di penjara itu. Namun pengalaman pahit sebagai tahanan politik membuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Karena itu setelah bebas, ia berniat memperbaiki citra dirinya. Ia tak ingin lagi melayani lelaki mana pun. Ia ingin menjadi wanita somahan. Dan ketika Bajus muncul dalam hidupnya, sepercik harapan timbul, harapan yang makin lama makin membuncah. Tapi, ternyata Srintil kembali terempas, kali ini bahkan membuat jiwanya hancur berantakan, tanpa harkat secuil pun.…

Novel ini merupakan penyatuan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala, dengan memasukkan kembali bagian-bagian yang tersensor selama 22 tahun.

← Kembali ke Blog