Novel Kita Pergi Hari Ini karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie merupakan sebuah fiksi fantasi gelap yang menceritakan petualangan lima anak kecil bersama pengasuh kucing ajaib menuju kota terapung yang penuh misteri. Meskipun sampulnya terlihat ceria layaknya buku anak-anak, buku ini justru menyajikan kritik sosial tajam mengenai pengasuhan, eksploitasi, dan kenyataan pahit yang menghantui dunia anak-anak. Melalui narasi absurd nan indah, Kita Pergi Hari Ini membawa pembaca pada perjalanan emosional yang berakhir dengan kejutan yang mencekam sekaligus menyedihkan.
Labirin Imajinasi
Kalau kamu melihat sampul buku ini di rak toko buku, otakmu mungkin langsung menyimpulkan bahwa ini adalah bacaan ringan untuk keponakan yang masih SD. Gambar kucing lucu dan pilihan warna yang menggemaskan memang sangat menipu mata. Akan tetapi, begitu kamu membuka lembar demi lembar karyanya, Ziggy akan menyeretmu masuk ke dalam labirin imajinasi yang tidak hanya ajaib, tetapi juga cukup brutal untuk ukuran cerita tentang anak-anak.
Membaca novel ini rasanya seperti sedang menyantap permen kapas yang ternyata berisi pecahan kaca di tengahnya. Manis di awal, namun perlahan-lahan memberikan rasa sakit yang nyata. Bagi saya, buku ini merupakan salah satu karya paling jenius sekaligus paling meresahkan yang pernah lahir dari tangan penulis Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Menjelajahi Dunia Absurd
Konsep utama dalam kita pergi hari ini berputar pada perjalanan Mi, Ma, Mo, serta si kembar Fifi dan Fufu. Mereka tinggal di Kota Suara, sebuah tempat di mana orang dewasa harus bekerja sangat keras karena para penjahat telah merampas semua sumber daya alam. Akibat kesibukan tersebut, para orang tua mencari “Cara Lain” untuk menjaga anak-anak mereka, yang kemudian mempertemukan mereka dengan Nona Gigi, seekor Kucing Luar Biasa yang bertindak sebagai pengasuh.
Ziggy membangun dunia fantasi ini dengan logika yang sangat absurd namun konsisten dalam kegilaannya. Kita akan bertemu dengan Kereta Air, Kolonel Jagung, hingga Sirkus Sendu yang memaksa orang-orang untuk menangis. Meskipun terdengar sangat dongeng, kita pergi hari ini menyisipkan detail-detail yang membuat bulu kuduk berdiri, seolah-olah ada bahaya yang selalu mengintai di balik setiap keajaiban yang muncul.
Sindiran Tajam untuk Para Orang Tua
Subjudul ini mungkin terasa sedikit menyakitkan, namun itulah pesan yang Ziggy sampaikan dengan sangat lantang. Penulis menggambarkan orang tua di Kota Suara sebagai sosok yang lebih mementingkan uang dan kenyamanan pribadi daripada keselamatan anak-anak mereka. Mereka menitipkan anak-anak kepada pengasuh asing tanpa benar-benar memeriksa keamanan tempat tujuan anak-anak tersebut pergi.
Contoh yang sangat relevan dengan kehidupan kita di Indonesia adalah fenomena “penitipan anak” atau penggunaan gawai sebagai pengasuh digital demi ketenangan orang tua. Kita sering kali merasa sudah memberikan yang terbaik hanya dengan mencukupi kebutuhan materi, padahal kita justru sedang membiarkan anak-anak berjalan menuju “Kota Terapung” mereka sendiri yang penuh risiko. Novel ini menampar kesadaran kita bahwa kehadiran fisik tidaklah cukup jika tanpa kepedulian yang tulus.
Keindahan Bahasa yang Menyamarkan Kengerian
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie memiliki kemampuan luar biasa dalam merangkai kalimat yang puitis dan mengalir. Diksi yang ia pilih membuat narasi terasa sangat ringan, bahkan saat ia sedang menceritakan hal-hal yang sangat kelam. Akibatnya, pembaca sering kali tidak menyadari bahwa mereka sedang diajak menyaksikan sebuah tragedi besar hingga semuanya sudah terlambat untuk kembali.
Penulis juga sering menyisipkan footnote atau catatan kaki yang menjelaskan fakta-fakta ajaib dalam dunia buatannya. Bukannya membuat cerita menjadi kaku, catatan kaki ini justru menambah kekhasan humor gelap yang Ziggy usung. Kita seolah-olah sedang membaca ensiklopedia dari dunia paralel yang aturan mainnya sangat berbeda dengan dunia kita, namun emosinya terasa sangat akrab.
Sirkus Sendu dan Hak untuk Menangis
Salah satu bagian yang paling membekas dalam ingatan saya adalah konsep Sirkus Sendu. Di sana, orang-orang membayar hanya untuk bisa menangis tanpa rasa malu. Ziggy melalui tokoh Nona Gigi memberikan sebuah insight menarik: “Menangis itu perlu, meskipun membuat muka jelek dan bengkak… karena sirkus sendu diperlukan untuk membuat orang yang tidak mau menangis, menangis.”
Hal ini mencerminkan betapa kaku masyarakat kita memandang emosi sedih. Sering kali, kita dituntut untuk selalu terlihat bahagia dan kuat di media sosial, sehingga kita kehilangan kemampuan untuk memproses kesedihan secara alami. Melalui petualangan dalam kita pergi hari ini, kita diingatkan bahwa menahan tangisan secara berlebihan justru bisa membawa kita pada kehancuran yang lebih besar.
Mengapa Kamu Harus Menamatkan Buku Ini?
Membaca kita pergi hari ini bukan hanya soal menikmati plot atau mengikuti petualangan kucing ajaib. Buku ini adalah sebuah pengalaman sensorik yang akan mengacak-acak logikamu. Kamu akan tertawa pada satu halaman, lalu merasa mual atau sedih di halaman berikutnya. Keberanian Ziggy dalam mengeksplorasi tema child abuse dan ketidakpedulian sosial melalui kacamata fantasi anak-anak patut mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya.
Variasi awal kalimat yang Ziggy gunakan mencegah rasa bosan dan menjaga ritme membaca tetap intens. Selain itu, panjang kalimat yang beragam membuat kita bisa merasakan napas cerita yang kadang terburu-buru, kadang melambat penuh perenungan. Bagi anak muda yang bosan dengan novel romansa atau horor kacangan, buku ini menawarkan level horor psikologis yang jauh lebih elegan dan membekas.
Plot Twist yang Meninggalkan Luka
Jangan pernah berharap akan menemukan happy ending ala Disney dalam buku ini. Penulis menyiapkan sebuah kejutan di bagian akhir yang akan membuatmu terdiam cukup lama setelah menutup buku. Kejadian di Kota Terapung Kucing Luar Biasa membongkar semua kepalsuan yang selama ini Nona Gigi bangun di depan anak-anak.
Dampaknya, kita akan merasa sangat bersalah sekaligus marah. Kita merasa marah karena dunia yang begitu indah ternyata hanyalah topeng bagi sebuah industri yang mengerikan. Perasaan ini mungkin mirip dengan saat kita menyadari bahwa produk yang kita gunakan sehari-hari ternyata melibatkan kerja paksa atau eksploitasi lingkungan. Ziggy berhasil membawa isu global yang berat ini ke dalam sebuah cerita yang sangat personal.
Perjalanan yang Mengubah Cara Pandang
Menutup ulasan novel Kita Pergi Hari Ini, saya bisa katakan bahwa buku ini adalah pengingat keras bahwa dunia tidak selalu ramah kepada mereka yang paling rentan. Kematian dan kehilangan dalam buku ini tidak tergambarkan secara heroik, melainkan secara sunyi dan sia-sia, persis seperti realitas di sekitar kita. Ziggy mengajak kita untuk lebih peka terhadap suara-suara kecil yang sering kali teredam oleh kebisingan dunia dewasa.
Rangkuman petualangan ini seharusnya membuat kamu berpikir ulang sebelum memercayai sesuatu hanya dari kemasannya yang cantik. Mulailah dengan langkah kecil untuk lebih peduli pada lingkungan terdekatmu, terutama anak-anak yang mungkin sedang mencari “Cara Lain” untuk melarikan diri dari kesepian. Dunia mungkin memang bukan pasar malam, tapi kita punya pilihan untuk tidak menjadikannya sebuah Sirkus Sendu yang abadi.
Apakah kamu tertarik untuk menyelami lebih dalam dunia absurd Ziggy atau ingin saya merekomendasikan novel fantasi gelap Indonesia lainnya yang tak kalah menggetarkan jiwa?
Sinopsis:
Mi dan Ma dan Mo tidak pernah melihat kucing seperti Nona Gigi. Tentu saja, mereka sudah pernah melihat kucing biasa. Tapi Nona Gigi adalah Kucing Luar Biasa. Kucing Luar Biasa berarti kucing yang di luar kebiasaan. Nona Gigi adalah Cara Lain yang dinantikan oleh Bapak dan Ibu Mo untuk menjaga Mi, Ma, dan Mo ketika keduanya keluar rumah mencari uang. Sebab di Kota Suara, semua uang yang tersedia di dasar laut sudah diambil oleh para perompak, uang di bawah tanah diambil oleh para perampok, dan uang di ranting pohon diambil oleh pengusaha kayu yang jahat.
Nona Gigi mengajak Mi dan Ma dan Mo dan Fifi dan Fufu—anak kembar Tetangga Baru bertualang mengunjungi tempat-tempat indah. Mereka naik Kereta Air, bertemu Kolonel Jagung, bermain di Sirkus Sendu, dan menyaksikan kemegahan Kota Terapung Kucing Luar Biasa.
Kita pergi hari ini. Ke tempat-tempat indah dalam mimpi-mimpi anak-anak baik-baik.
